Ibrahim Al Abrar Bocah Boyolali Temukan Celah NASA

asal usul ibrahim al abrar, bocah sd di desa boyolali yang dapat ‘surat cinta’ dari nasa

Boyolali – Perkembangan teknologi membuat semakin banyak anak muda di Indonesia tertarik mempelajari coding hingga keamanan siber atau cybersecurity. Berbekal akses internet dan berbagai sumber belajar gratis, tidak sedikit pelajar yang mampu mengembangkan keterampilan di bidang teknologi secara mandiri.

Salah satu sosok yang belakangan menjadi sorotan adalah Ibrahim Al Abrar, siswa sekolah dasar asal Boyolali, Jawa Tengah, yang berhasil memperoleh apresiasi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Nama Ibrahim Al Abrar ramai diperbincangkan setelah kisahnya dibagikan melalui akun Instagram @IbraCoding. Dalam unggahan tersebut diceritakan bahwa Ibrahim merupakan siswa kelas VI SD Negeri Genengsari 3 yang memilih mengisi waktu belajarnya dengan mendalami dunia keamanan siber.

Berkat ketekunan dan rasa ingin tahunya, ia berhasil menerima Letter of Recognition (LOR) dari NASA atas temuannya di bidang keamanan sistem.

“Perkenalkan, Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri Genengsari 3, yang memilih mengisi waktu belajarnya dengan mengenal dunia Cyber Security,” demikian dikutip dari akun Instagram tersebut.

Unggahan yang sama juga menegaskan bahwa pencapaian tersebut baru menjadi awal perjalanan Ibrahim.

“Ini bukan akhir perjalanan, melainkan langkah awal menuju cita-citanya menjadi seorang Cyber Security Professional.”

Ibrahim Al Abrar atau yang akrab disapa Ibra lahir pada 25 Juli 2014. Ia tinggal di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sebuah wilayah yang berada di sekitar Waduk Kedung Ombo.

Di usianya yang baru menginjak 11 tahun, Ibrahim masih duduk di bangku kelas VI SD Negeri 3 Genengsari. Meski masih berstatus pelajar sekolah dasar, namanya mulai dikenal luas setelah berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik milik NASA.

Ibrahim merupakan putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Aminudin Salas dan Hannisa Oktaviani. Ayahnya berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia teknologi bermula dari hobinya bermain gim. Melihat minat tersebut, sang ayah mendorongnya untuk tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga belajar membuat gim sendiri.

Sejak duduk di kelas IV SD, Ibrahim mulai belajar coding secara otodidak melalui berbagai video di YouTube, membaca referensi di internet, serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memahami materi yang belum dikuasainya.

Rekomendasi