

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi dalam dua hari perdagangan terakhir tahun 2025.
Meski aksi ambil untung (profit taking) diperkirakan masih akan membayangi seiring berakhirnya momentum window dressing, minat beli di level bawah dinilai masih cukup kuat.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai tekanan jual saat ini lebih bersifat teknikal dan musiman. Hal ini, menurutnya, tidak mencerminkan perubahan sentimen fundamental pasar.
Hal tersebut tercermin dari rebound IHSG yang menunjukkan adanya respons beli di area support.
“Dalam dua hari perdagangan terakhir 2025, IHSG cenderung bergerak fluktuatif dengan bias konsolidasi. Selama indeks mampu bertahan di atas support kunci 8.611, peluang penutupan positif tetap terbuka dengan target resistance terdekat di kisaran 8.729–8.776,” ujar Sukarno.
Ia menambahkan, hingga penutupan perdagangan akhir tahun, IHSG masih berpeluang bertahan di area 8.500 ke atas, selama tidak kembali turun menembus level support tersebut.
Jika support 8.611 mampu dipertahankan, indeks berpotensi kembali menguji area resistance dalam jangka sangat pendek.
“Sebaliknya, jika IHSG turun di bawah 8.611, maka ruang konsolidasi yang lebih dalam bisa terbuka. Namun, untuk saat ini, skenario tersebut belum menjadi yang dominan,” jelasnya.
Terkait strategi investasi, Sukarno menilai fase akhir tahun lebih tepat dimanfaatkan investor untuk menata portofolio ketimbang mengejar kenaikan harga.
Mengamankan keuntungan pada saham yang telah naik signifikan dinilai wajar. Sementara koreksi terbatas dapat dimanfaatkan untuk akumulasi selektif saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat sebagai bekal memasuki 2026.
“Peluang technical rebound masih ada, tetapi investor perlu disiplin dalam manajemen risiko dan stop loss. Ini bukan fase agresif, melainkan fase pengelolaan risiko menjelang awal tahun baru,” tutup Sukarno.