

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026), dipicu oleh tekanan harga minyak global yang bertahan tinggi serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. IHSG dibuka turun tipis 0,01 persen ke level 7.378,07, sementara indeks LQ45 turut melemah 0,10 persen ke posisi 715,75.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan. Indeks diprediksi akan menutup gap down di 7.308 dan menguji level 7.300.
Sentimen negatif pasar salah satunya datang dari eksternal, yakni meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan energi global, yang pada gilirannya memicu lonjakan harga minyak.
Menurut Ratna, penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu inflasi dan memperlebar defisit anggaran belanja. Tercatat, harga minyak jenis Brent mencapai 105,93 dolar AS per barel dan WTI di 96,57 dolar AS per barel pada pukul 09.42 WIB.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga menjadi faktor penekan. Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS, memperburuk persepsi risiko terhadap pasar domestik.
Secara global, bursa saham Amerika Serikat dan Eropa mayoritas ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, pergerakan bursa di Asia cenderung bervariasi, dengan sebagian indeks masih mengalami tekanan.
Meski demikian, kinerja emiten besar yang relatif positif dinilai mampu menahan tekanan lebih dalam pada IHSG. Sentimen ini menjadi penopang di tengah meningkatnya volatilitas pasar.