

Jakarta – Lucidium AI menyambut langkah Pemerintah Indonesia yang resmi menjadi salah satu anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), menyusul penandatanganan dokumen pendirian oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Shanghai pada Kamis, 16 Juli, atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Perusahaan teknologi AI dalam negeri yang bergerak di bidang media intelligence itu menilai keanggotaan tersebut bukan sekadar capaian diplomasi, melainkan mandat bagi ekosistem AI nasional untuk membuktikan bahwa Indonesia hadir di meja global bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pembangun.
Lucidium AI menyebut, “bridging the AI divide” yang ditegaskan Menko Airlangga tidak akan selesai di ruang perjanjian internasional. Kesenjangan itu, menurut mereka, hanya bisa tertutup jika ada pelaku dalam negeri yang benar-benar membangun kapabilitas AI dari dalam, dengan data Indonesia, konteks Indonesia, dan kepentingan Indonesia.
Lucidium AI memberikan tiga catatan atas keanggotaan Indonesia di WAICO. Pertama, komitmen human-centric harus diterjemahkan ke produk nyata. Prinsip AI yang aman, tepercaya, dan beretika yang dibawa Indonesia ke WAICO perlu diwujudkan dalam sistem AI yang benar-benar digunakan institusi publik dan swasta di dalam negeri, bukan berhenti sebagai dokumen kebijakan.
Kedua, kedaulatan kognitif dinilai sama pentingnya dengan kedaulatan data. Di era ketika narasi publik dapat direkayasa lintas batas, kemampuan bangsa untuk membaca, memahami, dan merespons dinamika informasinya sendiri disebut sebagai bagian dari ketahanan nasional.
Kapabilitas tersebut, menurut Lucidium AI, tidak boleh sepenuhnya bergantung pada platform asing.
Ketiga, roadmap AI nasional membutuhkan use case yang teruji. Lucidium AI menyatakan siap berkontribusi dalam penyusunan dan implementasi roadmap AI nasional yang tengah disiapkan pemerintah, khususnya pada analisis informasi publik, deteksi dini misinformasi, dan pendukung pengambilan keputusan berbasis AI. Area itu disebut telah dikembangkan Lucidium melalui platform Future Command Centre.
“Indonesia just earned a seat at the table where the rules of global AI will be written. What we do with that seat depends on what we build at home. Sovereignty in the age of AI is not declared – it is engineered, line by line, model by model, by our own people. Lucidium exists to do exactly that work,” ujar Yoyo Budianto, Chairman & Founder Lucidium AI.
Lucidium AI juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri agar keanggotaan Indonesia di WAICO berbuah kapabilitas nyata di dalam negeri, selaras dengan visi tata kelola AI global yang inklusif dan berpusat pada manusia.