Peneliti Hidupkan Retina Donor 10 Jam untuk Transplantasi

retina dari orang meninggal bisa dihidupkan kembali untuk transplantasi mata

Jakarta – Mata manusia dapat dijaga tetap aktif di luar tubuh hingga 10 jam setelah kematian, dua kali lipat dari durasi yang pernah dicapai.

Dengan mengalirkan darah dan oksigen ke mata donor, mata masih bisa merespons cahaya serta mempertahankan struktur dan kesehatan keseluruhan selama 24 jam.

Penelitian ini disebut bisa menjadi langkah penting menuju kemungkinan transplantasi mata seutuhnya. Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland, yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai kemampuan mempertahankan respons cahaya di luar tubuh manusia merupakan pencapaian luar biasa.

Lebih dari satu juta penduduk di Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat kerusakan permanen, seperti degenerasi makula yang menyerang retina.

Sejumlah kemajuan telah dicapai. Transplantasi kornea, yakni mengganti lapisan jernih di bagian depan mata dengan jaringan donor, dapat memperbaiki penglihatan akibat kerusakan kornea. Namun, perawatan retina lebih sulit karena terhubung dengan sistem saraf pusat.

Meski transplantasi sebagian wajah dan seluruh bola mata telah dilakukan sejak 2023, prosedur tersebut belum bisa mengembalikan penglihatan penerima donor. Retinanya sensitif terhadap degenerasi akibat kekurangan oksigen atau iskemia.

“Bahkan durasi singkat iskemia kemungkinan bisa menyebabkan degenerasi permanen pada kepekaan neuron dan sirkuit akan cahaya,” kata Johnson.

Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology di Spanyol dan timnya kemudian meneliti apakah kerusakan bisa dikurangi dengan mempertahankan mata donor dalam kondisi seperti saat masih berada di dalam tubuh.

Untuk itu, mereka membuat sistem yang memungkinkan selang dipasang ke arteri oftalmik, lalu menyuplai darah ke mata dan jaringan sekitarnya.

Mereka juga mengalirkan larutan kaya oksigen ke mata donor menggunakan perangkat khusus bernama Eye-in-Care-Box, dengan sensor yang mengatur tekanan dan aliran secara otomatis.

Dalam uji coba, peneliti mengambil mata dari enam pendonor, lalu melakukan perfusi pada salah satu mata dan membiarkan mata lainnya tanpa perfusi.

Hasilnya, sistem perfusi mampu menjaga struktur retina dan kesehatan jaringan di sekitarnya hingga 24 jam, sementara mata tanpa perfusi mengalami kerusakan lebih cepat.

Tim kemudian melakukan perfusi pada 36 bola mata donor. Sebanyak 15 di antaranya menghasilkan respons listrik terhadap cahaya pada retina, mirip seperti pada manusia hidup.

Respons itu bertahan hingga 10 jam setelah kematian, dua kali lebih lama dibanding temuan peneliti pada 2022 yang hanya lima jam. Namun, belum diketahui mengapa 21 bola mata lain yang diperfusi tim Byrne tidak menunjukkan respons serupa.

Masih ada tantangan besar lain sebelum dokter dapat mengembalikan penglihatan melalui transplantasi mata, yakni meregenerasi serat pada saraf optik yang terputus agar terhubung ke pusat penglihatan di otak.

“Tanpa hal itu, mata donor tidak akan memiliki cara untuk mengirimkan sensasi visual ke otak penerima,” ujar Johnson.

Penelitian baru ini belum menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, dengan menjaga metabolisme mata tetap sehat setelah kematian, peluang sistem pemulihan penglihatan mata dinilai semakin layak diterapkan ke depan dan mata pendonor tidak terlalu mengalami iskemia.

Sejumlah kelompok kini tengah mencari cara untuk mendorong pertumbuhan ulang saraf optik. Johnson menilai, saatnya mulai memadukan berbagai temuan itu dalam transplantasi mata secara utuh.

Menurut tim Byrne, perangkat Eye-in-Care-Box juga dapat dimanfaatkan untuk menguji terapi terkait penglihatan pada mata manusia ketimbang hewan.

Johnson menambahkan, teknologi ini berpotensi dikembangkan menjadi model in-vitro dan paradigma eksperimental baru untuk menguji obat serta terapi lain, sekaligus memahami biologi dan patologinya. Hasilnya juga dinilai bermanfaat untuk diaplikasikan langsung pada penyakit dan biologi manusia.

Rekomendasi