

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 3,46% ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa (19/6/2026). Koreksi tajam ini dipicu oleh penurunan mayoritas saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menjadi penggerak pasar.
Di tengah tekanan tersebut, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) justru menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan kenaikan 1,18% ke level Rp1.285. Sepanjang tahun berjalan (year to date), saham BBTN terpantau tumbuh 9,36% di tengah sentimen negatif ekonomi global dan pelemahan rupiah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai BBTN memiliki kinerja yang resilien dibandingkan perbankan besar lainnya yang sedang berada dalam fase downtrend. Menurutnya, valuasi BBTN saat ini tergolong murah dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,5 kali dan price to earnings ratio (P/E) di kisaran 4,1 kali.
“Melihat kondisi IHSG yang volatil, BBTN menarik untuk diakumulasi sebagai defensive stock,” ujar Nafan. Mirae Asset Sekuritas bahkan mematok target harga saham BBTN di level Rp1.375.
Ketahanan BBTN dinilai berasal dari fokus perseroan pada sektor properti melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi maupun non-subsidi, sehingga minim eksposur terhadap kredit berbasis valuta asing. Selain itu, kinerja penyaluran kredit yang tumbuh 10% pada kuartal pertama 2026 serta penurunan cost of credit menjadi indikator perbaikan kualitas aset perusahaan.
Senada dengan hal tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengkategorikan BBTN sebagai saham dengan valuasi deep value. Ia mencatat laba perseroan yang tumbuh double digit serta posisi strategis sebagai pemain utama KPR nasional menjadi penopang fundamental yang kuat.
Namun, Liza mengingatkan bahwa saham ini lebih cocok bagi investor agresif yang optimis terhadap potensi penurunan suku bunga di semester kedua 2026. Hal ini dikarenakan sensitivitas perusahaan terhadap siklus suku bunga properti dan likuiditas yang cukup tinggi.
Praktisi pasar modal, Hans Kwee, turut menyoroti solidnya fundamental BBTN yang tercermin dari capaian kuartal I 2026. Tercatat, bank pelat merah ini membukukan laba bersih Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh penyaluran kredit sebesar Rp400,63 triliun yang naik 10,3% YoY, serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp422,63 triliun atau meningkat 9,9% YoY. Perbaikan efisiensi juga terlihat dari penurunan Cost of Fund (CoF) ke level 3,0%, serta peningkatan aset perseroan sebesar 10,5% YoY menjadi Rp517,54 triliun.