

JAKARTA – Sejumlah emiten besar, seperti PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) dan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI), bersiap menggelar aksi penambahan modal melalui skema rights issue pada akhir tahun ini. Rencana korporasi ini datang di tengah dinamika pergerakan saham yang beragam, dengan beberapa di antaranya mencatat lonjakan harga signifikan.
INET menjadi salah satu emiten yang akan melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue jumbo senilai maksimal Rp3,2 triliun. Perseroan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD atau cum-right di pasar reguler dan negosiasi adalah hari ini, Selasa, 25 November 2025. Sementara itu, cum-right di pasar tunai akan jatuh pada 27 November 2025. Saham INET sendiri, meskipun terkena suspensi hari ini, telah melesat 1.063,79% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) ke level Rp675 per lembar.
Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), yakni GMFI, juga akan menggelar rights issue dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 90,05 miliar saham baru Seri B. Dalam aksi ini, PT Angkasa Pura Indonesia (API) akan berpartisipasi dengan menyetorkan aset berupa lahan atau inbreng senilai Rp5,6 triliun kepada GMFI. Lahan seluas 972.123 meter persegi tersebut berlokasi di kompleks GMF, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Tanggal efektif pernyataan pendaftaran HMETD GMFI ditetapkan pada 8 Desember 2025, dengan periode pelaksanaan HMETD antara 22 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026. Saham GMFI tercatat menguat 65,31% sepanjang tahun berjalan, meskipun sejak pekan lalu harga sahamnya stagnan di level Rp81.
Sejumlah emiten lain juga telah merancang aksi tambah modal serupa. Emiten properti milik konglomerat Hermanto Tanoko, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE), berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,33 miliar saham baru. Saham RISE melonjak 1.151,22% ytd ke level Rp12.825 per lembar.
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) dari jasa pelayaran, berencana menggelar rights issue sebanyak-banyaknya 48 miliar saham. Saham CBRE bahkan terbang luar biasa 5.452,63% ytd ke level Rp1.055 per lembar. Sementara itu, PT Panca Global Kapital Tbk. (PEGE) berencana menerbitkan sebanyak 944,47 juta saham baru, dengan kenaikan saham 65,77% ytd ke level Rp184 per lembar.
Emiten kongsi Agung Sedayu dan Grup Salim, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI), juga bakal menghimpun dana segar maksimal Rp16,7 triliun dari rights issue sebanyak-banyaknya 1,21 miliar saham baru. Namun, PANI telah mengumumkan perubahan rencana jadwal rights issue-nya yang semula dijadwalkan efektif pada 17 November 2025 dan pencatatan di BEI pada 1 Desember 2025. Jadwal terbaru akan diumumkan kemudian.
Berbeda dengan emiten lain yang sahamnya melonjak, harga saham PANI masih lesu, mencatat penurunan 13,21% ytd ke level Rp13.900 per lembar. Ini menunjukkan bahwa di tengah semarak rights issue, kinerja saham emiten bervariasi, ada yang mencatatkan lonjakan harga berkali-kali lipat atau multibagger, namun ada pula yang melorot.
Menanggapi fenomena ini, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyatakan bahwa aksi rights issue seperti INET, PEGE, RISE, dan GMFI memiliki peluang penyerapan yang cukup besar. Menurutnya, hal ini didorong oleh harga pelaksanaan yang kompetitif dan narasi penggunaan dana yang jelas, mulai dari ekspansi teknologi, restrukturisasi, hingga penguatan modal kerja.
“Dukungan pemegang saham mayoritas serta momentum pergerakan harga sebelum aksi korporasi juga menjadi katalis tambahan,” kata Sukarno pada Selasa (25/11/2025). Ia menambahkan, pemulihan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan masuknya arus dana asing juga turut meningkatkan minat investor.
Kiwoom Sekuritas Indonesia optimistis terhadap prospek aksi korporasi INET untuk mendukung ekspansi masifnya, yang dinilai dapat memperkuat struktur permodalan dan memperluas jaringan infrastruktur digital. Sekuritas ini bahkan memberikan peringkat buy untuk INET dengan target harga yang sudah tercapai di level Rp620 per lembar, meskipun ada tantangan seperti eksekusi rights issue dan tekanan margin.
Di sisi lain, Associate Director Pilarmas Investindo, Maximilianus Nicodemus, berpendapat bahwa serapan pasar atas aksi korporasi akan kembali pada fundamental perusahaan, valuasi, sektor bisnis, dan tujuan rights issue tersebut.
“Pelaku pasar dan investor cenderung akan selektif dalam menyerap rights issue, terutama mengenai dampak aksi korporasi ini terhadap kinerja keuangan perusahaan,” jelas Nicodemus. Ia menekankan, jika tujuannya untuk ekspansi, investor akan melihat seberapa cepat perusahaan mampu menghasilkan pendapatan dari ekspansi tersebut dan memberikan dampak positif terhadap perusahaannya.