

JAKARTA – Bursa saham Arab Saudi mengalami penurunan tajam pada perdagangan Minggu (4/12/2025) waktu setempat. Kekhawatiran investor atas potensi dampak ketegangan geopolitik di Yaman, Iran, dan Venezuela menjadi pemicu utama.
Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir sembilan bulan terakhir bagi pasar saham Arab Saudi.
Indeks acuan Tadawul All Share Index anjlok 1,8%, seperti dilansir Bloomberg. Penurunan sebesar ini terakhir kali terjadi pada April 2025, saat pasar global bergejolak akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada penutupan perdagangan, seluruh kelompok industri di bursa Arab Saudi berada di zona merah. Indeks penutupan juga mencatatkan level terendah sejak Oktober 2023.
Sementara itu, di kawasan Teluk lainnya, pergerakan pasar cenderung lebih stabil. Bursa saham Qatar, Oman, dan Bahrain mencatatkan penguatan tipis.
Tekanan terhadap pasar Arab Saudi dipicu oleh seruan Riyadh kepada faksi-faksi selatan Yaman untuk berunding di ibu kota Arab Saudi. Hal ini terjadi di tengah bentrokan antara pasukan yang didukung Saudi dan kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab. Selain itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menepis gelombang protes dengan menyebutnya dipicu oleh kekuatan eksternal.
“Pelemahan pasar Saudi saat ini mencerminkan isu geopolitik regional, meski belum ada indikasi konfrontasi atau eskalasi, khususnya terkait Yaman,” kata Junaid Ansari, kepala riset dan strategi di Kamco Investment Co.
Ansari menambahkan, situasi di Iran juga membebani sentimen dan meningkatkan premi risiko geopolitik di kawasan tersebut.
Dampak terhadap saham dari potensi gangguan pasar minyak akibat situasi di Venezuela diperkirakan baru akan terasa mulai Senin (5/12/2025), seiring dibukanya kembali perdagangan minyak mentah.
Secara fundamental, pasar saham Arab Saudi masih dibayangi kinerja tahunan terburuk sejak 2015. Harga minyak yang relatif lemah dinilai membatasi belanja publik dan menahan pertumbuhan laba korporasi.
Prospek kinerja pasar pada 2026 dipandang beragam. Sejumlah analis melihat peluang penguatan dari potensi pelonggaran batas kepemilikan asing. Sementara itu, analis lainnya menilai pasar masih kekurangan momentum untuk berbalik arah secara berkelanjutan.