Sentimen Global Diprediksi Masih Tekan Harga Emas Pekan Depan

Jakarta – Harga emas diprediksi masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Pada Ahad, 17 Mei 2026, harga emas Antam atau Logam Mulia berada di level Rp 2.769.000 per gram, sementara harga emas dunia tercatat di atas US$ 4.574 per troy ons.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia sempat mengalami gejolak dalam sepekan terakhir dengan mencapai titik tertinggi di angka US$ 4.767 per troy ons pada Selasa, 12 Mei 2026. Sejalan dengan tren tersebut, harga Logam Mulia sempat menyentuh level tertinggi di Rp 2.859.000 per gram pada hari yang sama, sebelum akhirnya mengalami penurunan hingga hari ini.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan jika harga emas dunia melemah pada pekan depan, maka level harga terendah berada di kisaran US$ 4.307 hingga US$ 4.444 per troy ons.

“Untuk logam mulia, kemungkinan besar akan turun Rp 20.000 menjadi Rp 2.749.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Ahad, 17 Mei 2026.

Sebaliknya, jika harga komoditas ini kembali menguat, harga emas dunia diprediksi mampu mencapai level US$ 4.639 hingga US$ 4.796 per troy ons. Dalam skenario tersebut, emas Antam berpotensi naik hingga Rp 2.880.000 per gram.

Ibrahim menilai target harga Logam Mulia di angka Rp 2.900.000 per gram akan sangat berat dicapai saat ini. Hal tersebut dipicu oleh tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta penutupan Selat Hormuz.

Menurutnya, peluang kenaikan harga emas baru akan terbuka lebar jika Selat Hormuz kembali dibuka dan Amerika Serikat menarik diri dari konflik di Timur Tengah. Jika kondisi sebaliknya yang terjadi, yakni Amerika tetap terlibat dan blokade Selat Hormuz terus berlanjut, harga emas diprediksi akan kembali merosot.

Faktor lain yang turut menekan harga emas adalah lonjakan inflasi di Amerika Serikat akibat perang. Kondisi ini mendorong bank sentral global untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan yang berisiko membuat harga emas tergelincir.

Sementara itu, nilai tukar rupiah diprediksi masih akan melemah pada perdagangan pekan depan dan berpotensi menembus level Rp 17.800 per dolar AS. Ibrahim menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan situasi ini dengan mengoleksi logam mulia sebagai instrumen investasi.

Rekomendasi