

Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan hebat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil rebalancing terbarunya. Popularitas pasar saham Indonesia terancam menurun seiring keluarnya sejumlah saham berkapitalisasi besar dari indeks global tersebut.
Dalam pengumuman resmi pada Rabu (13/5), MSCI mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Khusus untuk AMRT, emiten tersebut masih tercatat dalam MSCI Small Cap Indexes. Selain itu, terdapat 13 saham lain yang didepak dari MSCI Small Cap Indexes, di antaranya ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.
Dampaknya, IHSG terkoreksi 1,98% ke level 6.723,32 pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Saham-saham yang tersisih mencatatkan pelemahan signifikan. Harga saham TPIA jatuh 14,85%, BREN merosot 11,36%, DSSA anjlok 11,16%, CUAN terperosok 10,05%, dan AMMN terkoreksi 9,09%. Investor asing pun mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 1,53 triliun pada hari yang sama, menambah total net sell sejak awal tahun menjadi Rp 40,25 triliun.
Situasi pasar kian menantang setelah FTSE Russell mengumumkan akan menghapus saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeksnya, bahkan dengan mekanisme penilaian hingga mencapai nol atau price to zero. Keputusan ini menjadi sinyal keras bagi emiten di Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan terlalu tinggi, karena dianggap berisiko terhadap likuiditas bagi investor global.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai sentimen ini berdampak besar karena MSCI merupakan tolok ukur utama bagi investor global dalam menentukan aliran modal masuk (capital inflow). Jika posisi Indonesia dalam indeks tersebut dinilai kurang baik, potensi masuknya investasi ke pasar domestik akan berkurang.
Meski demikian, pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan IHSG kali ini sebenarnya sudah terantisipasi oleh pasar sejak beberapa pekan terakhir. Namun, ia mengingatkan bahwa saham-saham seperti BREN, AMMN, DSSA, CUAN, TPIA, hingga AMRT masih rentan volatilitas dalam jangka pendek akibat aksi jual asing dan penyesuaian bobot portofolio oleh institusi global.
Di sisi lain, pengamat pasar modal Hans Kwee melihat kondisi ini sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip yang terkoreksi akibat kepanikan pasar. Ia menekankan perlunya transparansi dan peran aktif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Self-Regulatory Organization (SRO) dalam memperketat pengawasan struktur kepemilikan.
Menanggapi hal tersebut, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengkritik langkah reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas saat ini terkesan reaktif. Menurutnya, persoalan mengenai free float efektif dan transparansi pemilik manfaat (beneficial ownership) seharusnya ditangani lebih awal.
Terkait strategi investasi, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor untuk mengambil langkah hold dan wait and see sembari menunggu volatilitas mereda. Sementara itu, Hendra Wardana menyarankan investor untuk fokus pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan utang yang terjaga agar lebih tahan terhadap tekanan ekonomi global.
Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area support di level 6.700 hingga 6.585 jika tekanan global terus berlanjut. Meski begitu, proyeksi akhir tahun 2026 untuk IHSG masih optimistis di kisaran 7.600–7.800 dengan asumsi masalah rebalancing indeks telah tuntas dan kondisi geopolitik global membaik.