Sumber Alfaria Tahan Tekanan Daya Beli Lewat Strategi Ekspansi

Jakarta – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatatkan kinerja keuangan yang solid di tengah tekanan daya beli masyarakat sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Perusahaan pengelola jaringan ritel Alfamart ini berhasil menjaga fundamental bisnis berkat ekspansi gerai yang agresif serta dominasi pangsa pasar yang kuat di sektor minimarket nasional.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyebutkan bahwa AMRT memiliki pangsa pasar dominan di angka 42,2%. Kondisi ini membuat perusahaan mampu bertahan di tengah perubahan dinamika ritel di Indonesia.

Sepanjang tahun buku 2025, AMRT mencatatkan pendapatan sebesar Rp 126,74 triliun, meningkat 7,20% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih perusahaan tumbuh 8,35% YoY menjadi Rp 3,41 triliun.

Pertumbuhan tersebut dinilai sebagai hasil dari keberhasilan strategi ekspansi perseroan, terutama dengan mengalihkan fokus pembukaan gerai ke luar Pulau Jawa. Hingga akhir 2025, AMRT telah mengoperasikan sebanyak 24.434 gerai, di mana 36,6% di antaranya berada di luar Pulau Jawa.

Kinerja operasional AMRT turut didukung oleh jaringan logistik yang luas dengan 58 gudang yang tersebar strategis di berbagai wilayah. Selain itu, optimalisasi kanal digital melalui aplikasi Alfagift diproyeksikan akan memperkuat pertumbuhan perusahaan di masa depan, melengkapi kekuatan penjualan secara luring (offline).

Dari sisi profitabilitas, AMRT berhasil meningkatkan margin laba kotor menjadi 21,90%. Kondisi neraca keuangan perusahaan juga tergolong sangat sehat dengan rasio utang yang rendah, yakni debt to equity ratio (DER) sebesar 0,04 kali dan net gearing ratio negatif di level -0,22 kali.

Dengan posisi keuangan yang kuat, AMRT dinilai memiliki ruang yang cukup leluasa untuk melanjutkan ekspansi bisnis. Azis memproyeksikan kinerja AMRT akan tetap stabil memasuki semester II-2026, yang didorong oleh penguatan distribusi dan ketahanan segmen kebutuhan pokok.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi ekonomi makro tersebut berpotensi menekan pertumbuhan same store sales growth (SSSG) perusahaan ke depan.

Rekomendasi