

TREAT – Pada Kamis, 5 September 2024, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dukungannya untuk Kamala Harris dalam pemilihan presiden AS yang akan datang. Melansir tempo.co, bentuk dukungan ini muncul sehari setelah Amerika Serikat menuduh Rusia melakukan campur tangan dalam pemilu.
Putin mengatakan, “(Presiden AS Joe) Biden merekomendasikan pendukungnya untuk memilih Harris.” Biden mundur pada Juli karena masalah kesehatan dan usia, mendukung Harris sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.
“Kami akan mengikuti langkah Biden dan mendukungnya juga,” tambah Putin di Forum Ekonomi Timur di Vladivostok. Dia juga mengomentari senyum Harris yang dianggapnya menunjukkan bahwa situasinya baik-baik saja. Selain itu, Putin menyebut Trump telah memberlakukan sanksi lebih banyak terhadap Rusia dibandingkan presiden lainnya. Jika Harris menang, Putin berharap sanksi akan berkurang.

Pada Februari, Putin lebih memilih Biden dibandingkan Trump, karena Biden dianggap “mudah diprediksi.” Gedung Putih kemudian meminta Putin untuk tidak campur tangan dalam pemilihan AS. Putin sering mengkritik sistem politik AS dan menyebutnya “busuk.”
Pejabat AS telah memperingatkan tentang campur tangan asing dalam pemilu mendatang. Mereka menuduh Rusia berusaha mempengaruhi pemungutan suara sejak 2016. Trump mengklaim akan menyelesaikan konflik Ukraina dalam 24 jam jika terpilih kembali dan memuji Putin sebagai “sangat cerdas.”
Pada Juli lalu Putin menganggap komentar Trump tentang konflik Ukraina sebagai hal yang “cukup serius.” Ia juga mengkritik hukuman yang diberikan Trump pada mantan taipan real estate sebagai tindakan “persekusi.” Meskipun spekulasi muncul, Kremlin menegaskan hasil pemilihan tidak akan mempengaruhi konflik Ukraina.
Komentar Putin datang sehari setelah AS mendakwa dua pegawai jaringan berita Rusia, RT, dan menjatuhkan sanksi pada editor utamanya. Departemen Keuangan AS menyasar sepuluh individu dan dua entitas, termasuk Margarita Simonyan dan Elizaveta Brodskaia namun Rusia mengecam tuduhan ini palsu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut tindakan AS sebagai “kampanye informasi” menjelang pemilu. Dia menambahkan bahwa Rusia akan memberikan respons keras dan mengejutkan. Media AS juga telah menarik staf dari Rusia setelah invasi Ukraina dan undang-undang yang membatasi pemberitaan independen.