

Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan media lokal dan media arus utama di daerah semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta dominasi algoritma media sosial yang berpotensi memicu bias informasi.
Nezar mengatakan media di daerah tetap relevan sebagai benteng utama untuk menyaring disinformasi dan menjaga akurasi berita bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, ruang digital saat ini dikuasai algoritma personalisasi yang dirancang untuk memikat dan menguras perhatian pengguna.
Kondisi itu, kata dia, membuat warganet berisiko terjebak dalam gelembung informasi (echo chamber), yakni menerima berita yang seragam secara terus-menerus tanpa ruang kritis untuk menguji kebenarannya.
“Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, melainkan juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat sangat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas,” tegas Nezar, dikutip dari Antara, Sabtu (1/8/2026).
Ia menambahkan, tantangan di ruang digital kian kompleks seiring pesatnya pemanfaatan AI yang mampu memproduksi konten secara instan dan masif.
Meski menawarkan efisiensi, konten hasil olahan AI yang tidak melewati proses verifikasi berpotensi besar meningkatkan risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.
Di tengah kondisi itu, jurnalisme profesional dinilai memegang peran vital. Menurut Nezar, jurnalis dan media arus utama bertindak sebagai penjaga fakta sekaligus pemegang kepercayaan publik.
“Berbeda dari sekadar konten viral, produk jurnalistik diikat oleh tanggung jawab moral, kode etik, prinsip akurasi, dan kredibilitas,” ujarnya.