Rupiah Melemah ke Rp17.502 per Dolar AS Akibat Sentimen Pasar

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/5/2026) pagi. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.09 WIB, rupiah berada di level Rp 17.502 per dolar AS, melemah 0,15% dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026) di posisi Rp 17.476 per dolar AS.

Penguatan dolar AS terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap angka inflasi AS yang tetap tinggi, ditambah dengan tingginya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mengacu pada data Reuters, indeks dolar AS tercatat berada di level 98,46 atau naik sekitar 0,63% sepanjang pekan ini.

Dari sisi ekonomi AS, penguatan dolar turut dipicu oleh data inflasi yang kembali memanas. Data terbaru menunjukkan indeks harga produsen AS (Producer Price Index/PPI) pada April mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir, menyusul data inflasi konsumen yang sebelumnya juga menunjukkan laju kenaikan harga tercepat dalam tiga tahun.

Analis strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menilai data inflasi tersebut tidak akan disambut baik oleh para pejabat Federal Open Market Committee (FOMC), termasuk Ketua The Fed yang baru saja disetujui Senat AS pada Rabu (13/5/2026), Kevin Warsh.

Kong memproyeksikan The Fed berpotensi memulai siklus pengetatan suku bunga baru pada Desember 2026 dengan estimasi tiga kali kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 31,8%, melonjak signifikan dibandingkan 16% sepekan lalu.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS. Yield obligasi tenor dua tahun kini berada di level 3,9750%, mendekati posisi tertinggi dalam satu setengah bulan terakhir. Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,4669% atau mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir.

Selain faktor domestik AS, sentimen pasar global juga tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara serta membahas isu geopolitik, termasuk konflik Iran dan kebijakan penjualan senjata AS ke Taiwan.

Di pasar Asia, yuan offshore China terpantau bertahan di level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada kisaran 6,7860 per dolar AS. Analis Barclays memperkirakan yuan domestik akan tetap stabil dalam jangka pendek, kendati otoritas China diprediksi tetap melakukan intervensi agar penguatan mata uang tidak berlangsung terlalu cepat.

Sementara di pasar global lainnya, mata uang euro relatif stabil di level US$ 1,1716, sedangkan pound sterling berada di posisi US$ 1,3527 di tengah ketidakpastian politik domestik Inggris. Terhadap yen Jepang, dolar AS melemah tipis 0,04% menjadi 157,83 yen, dengan pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi intervensi dari otoritas Jepang.

Rekomendasi