

New York – Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (13/5/2026) menyusul data inflasi terbaru yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama.
Hingga pukul 09.45 waktu New York, indeks Dow Jones terkoreksi 249,05 poin atau 0,50% ke level 49.511,51. Sementara itu, S&P 500 turun 0,19% ke 7.387,05, dan Nasdaq Composite bergerak stagnan dengan kenaikan tipis 0,01% ke 26.091,60.
Tekanan pada indeks S&P 500 terjadi di tengah kekhawatiran investor bahwa lonjakan inflasi akan menghambat niat bank sentral AS, The Fed, untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Data terbaru menunjukkan harga produsen AS pada April melonjak melampaui ekspektasi, yang mencatatkan kenaikan terbesar sejak awal 2022. Kondisi ini menyusul laporan inflasi konsumen sehari sebelumnya yang meningkat paling tajam dalam tiga tahun terakhir.
Kombinasi dua data tersebut memicu kecemasan bahwa tekanan harga di AS kembali memanas, diperparah oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi akibat konflik Iran.
Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, menilai data inflasi kali ini sangat menantang dan memperkuat pandangan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tinggi untuk waktu yang lama.
Pasar kini mulai meragukan adanya penurunan suku bunga tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember meningkat tajam menjadi 34,3%, melonjak dibandingkan sekitar 15% pada pekan sebelumnya.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh transisi di Federal Reserve. Kevin Warsh, yang baru dikonfirmasi Senat sebagai anggota dewan The Fed, dinilai berpotensi membawa kebijakan moneter yang lebih agresif. Sementara itu, masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell akan berakhir pekan ini.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah tiba di Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Dalam lawatan tersebut, Trump didampingi sejumlah tokoh bisnis besar, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan Elon Musk.
Investor turut mencermati perkembangan konflik Iran yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi tersebut dikhawatirkan menambah tekanan inflasi sekaligus mempersempit ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga.
Secara sektoral, sembilan dari sebelas sektor utama S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor utilitas dan real estat menjadi penekan terbesar. Namun, saham sektor semikonduktor mulai pulih dengan indeks Philadelphia SE Semiconductor naik 1,7%.
Saham Nebius Group mencuri perhatian pasar setelah melonjak 10% pasca perusahaan cloud berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut melaporkan kenaikan pendapatan kuartalan hampir delapan kali lipat.
Di tengah tekanan pasar, Morgan Stanley justru menaikkan target indeks S&P 500 menjadi 8.000 dari sebelumnya 7.800. Bank investasi tersebut menilai saham-saham AS masih memiliki ruang untuk tumbuh yang ditopang oleh kinerja laba perusahaan yang tetap solid.