

Batang – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, berhasil mencatatkan investasi sebesar US$ 1,3 miliar. Proyek strategis ini telah menyerap sekitar 11 ribu tenaga kerja langsung, didorong oleh tingginya minat investor yang melampaui rata-rata penjualan lahan industri nasional.
Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Agung Putu Ngurah Wirawan, mengungkapkan bahwa penjualan lahan di kawasan tersebut mencapai 104 hektare pada 2024. Tren positif berlanjut pada 2025 dengan capaian penjualan lahan sebesar 97 hektare.
Menurut Agung, angka tersebut melampaui rata-rata penjualan kawasan industri nasional yang umumnya hanya berkisar 15 hingga 20 hektare per tahun. Hal ini dinilai sebagai bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap potensi dan daya saing kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia pun terus mempromosikan peluang investasi di KEK Industropolis Batang kepada komunitas bisnis internasional, salah satunya melalui forum bertajuk Indonesia’s New Economic Frontier: Investing in Batang Integrated Estate and Health Special Economic Zone di Hungaria.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menawarkan peluang investasi di berbagai sektor, mulai dari industri, kesehatan, energi hijau, hingga teknologi digital.
Selain KEK Industropolis Batang, pemerintah turut memperkenalkan KEK Sanur, KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam, serta KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten kepada para pelaku usaha di Hungaria.
Rizal menjelaskan bahwa pengembangan KEK merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional melalui ekosistem industri terintegrasi, insentif investasi, dan penguatan konektivitas di kawasan Indo-Pasifik.
“Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, kami mengundang dunia usaha internasional tidak hanya untuk menyaksikan transformasi Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ujar Rizal.
Lebih lanjut, Rizal menuturkan bahwa Indonesia dan Hungaria memiliki potensi kolaborasi strategis di sektor kesehatan, farmasi, sains, dan inovasi. Hungaria dinilai memiliki keunggulan dalam riset farmasi, sementara Indonesia menawarkan pasar luas serta infrastruktur yang mendukung investasi jangka panjang.