Harga minyak anjlok 2% seiring menguatnya harapan gencatan AS-Iran

HOUSTON – Harga minyak dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (29/5/2026) dengan koreksi lebih dari 2 persen. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terkait potensi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen tersebut memicu aksi jual di pasar energi dan mendorong harga minyak mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak awal April.

Minyak mentah Brent kontrak Juli ditutup di level 92,05 dolar AS per barel, turun 1,66 dolar AS atau 1,8 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di posisi 87,36 dolar AS per barel, terkoreksi 1,54 dolar AS atau 1,7 persen.

Partner di Again Capital, John Kilduff, menyebut pasar saat ini bereaksi berlebihan seolah gencatan senjata akan berjalan mulus tanpa hambatan. Menurutnya, fokus utama pelaku pasar tertuju pada kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Meski demikian, detail implementasi kesepakatan tersebut masih belum jelas. Laporan media Iran menyebutkan bahwa rencana pembukaan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran, termasuk penerapan skema pengendalian lalu lintas dan biaya transit. Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump mendesak agar selat tersebut dibuka tanpa syarat.

Ketidakpastian ini membuat pasar tetap volatil dengan pergerakan harga yang sempat berfluktuasi hingga 6 dolar AS dalam beberapa sesi terakhir. Secara mingguan, harga Brent anjlok sekitar 11 persen, sementara WTI terkoreksi lebih dari 9 persen.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai pasar saat ini masih berada dalam posisi tarik-menarik antara faktor geopolitik dan fundamental pasokan. Di sisi lain, laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan adanya penurunan stok minyak mentah, bensin, dan distilat di AS pada pekan lalu, yang didorong oleh meningkatnya aktivitas kilang dan permintaan.

Melihat dinamika tersebut, Commerzbank melakukan revisi proyeksi harga Brent menjadi 90 dolar AS per barel pada akhir September dan 85 dolar AS pada akhir tahun. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa operasional di Selat Hormuz belum kembali normal dalam dua bulan ke depan.

Rekomendasi