

Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia akan dipatok di atas harga eceran tertinggi (HET) domestik. Kebijakan ini diambil guna mematuhi arahan Presiden Prabowo Subianto agar ekspor beras dapat memberikan keuntungan optimal bagi petani serta meningkatkan penerimaan negara.
Rizal menjelaskan, harga ekspor tersebut berpotensi melampaui penawaran awal dari pihak Malaysia yang berada di kisaran Rp 16 ribu per kilogram.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, harga yang kita ekspor harus menguntungkan petani, bangsa, dan negara,” ujar Rizal di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Guna mematangkan rencana tersebut, Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Sarawak, Malaysia, setelah perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan volume kebutuhan beras serta menetapkan harga dan skema perdagangan yang paling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Pembahasan teknis juga akan mencakup mekanisme pengiriman, apakah akan menggunakan sistem pelabuhan ke pelabuhan (port to port) atau pembelian langsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Rizal menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk menentukan strategi terbaik sebelum ekspor resmi dilakukan.
Langkah ini diambil menyusul pesan khusus Presiden Prabowo Subianto dalam acara di Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026 lalu. Saat itu, Presiden secara langsung mengingatkan agar Bulog tidak menjual beras Indonesia dengan harga murah di pasar internasional.
Sebagai informasi, saat ini HET beras premium di pasar domestik berdasarkan regulasi zonasi Badan Pangan Nasional berada di kisaran Rp 14.900 hingga Rp 15.800 per kilogram. Bulog optimistis rencana ekspor ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan regional serta memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian nasional.