Purbaya Kaji Potensi Pendapatan Ekspor Melalui DSI

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ini tengah menghitung potensi penerimaan negara yang akan diperoleh dari kebijakan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini menyasar tiga komoditas utama, yakni batu bara, paduan besi (ferro alloy), dan kelapa sawit.

Meski masa transisi telah dimulai pada 1 Juni 2026, Purbaya menyatakan bahwa hasil kalkulasi angka penerimaan belum dapat dipastikan. Pihaknya masih terus melakukan penghitungan karena kebijakan ini baru pertama kali diterapkan.

“Sudah dihitung tapi belum ketemu angkanya. Jadi kita masih hitung terus, ini kan baru pertama kali. Kami belum bisa lihat seperti apa dampaknya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers persiapan operasional PT DSI di Jakarta, Minggu, 31 Mei 2026.

Kementerian Keuangan akan melakukan pemantauan perkembangan secara berkala dengan masa evaluasi setiap tiga bulan. Menurut Purbaya, angka yang lebih jelas mengenai dampak operasional PT DSI terhadap penerimaan negara baru bisa dirilis setelah tiga bulan ke depan.

PT DSI sendiri telah ditetapkan sebagai badan usaha milik negara (BUMN) pengekspor tunggal untuk komoditas SDA strategis. Langkah ini bertujuan memperkuat tata kelola ekspor guna mencegah praktik curang seperti under-invoicing atau pelaporan harga di bawah nilai sebenarnya, serta praktik transfer pricing.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ketiga komoditas tersebut merupakan kontributor utama surplus perdagangan Indonesia. Sepanjang tahun 2025, ketiga komoditas strategis ini mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 66,13 miliar atau setara dengan 23,4 persen dari total ekspor nasional.

“Ini adalah penopang surplus neraca perdagangan yang terjadi selama 71 bulan berturut-turut,” kata Airlangga.

Berdasarkan catatan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, rincian nilai ekspor tersebut terdiri dari batu bara sebesar US$ 24,48 miliar, minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 24,42 miliar, serta ferro alloy sebesar US$ 16,49 miliar.

Rekomendasi