Harga Emas Antam Turun Rp25 Ribu Per Gram

Jakarta – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Harga emas Antam hari ini tercatat merosot Rp 25.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram dibandingkan hari sebelumnya.

Pada Senin, 1 Juni 2026, harga emas Antam sempat berada di angka Rp 2.799.000 per gram. Pelemahan ini terjadi setelah harga emas sempat mencatatkan tren kenaikan berturut-turut pada 29 dan 30 Mei 2026.

Sejalan dengan penurunan harga emas batangan, harga jual kembali atau buyback emas Antam hari ini juga ikut terkoreksi Rp 25.000, sehingga ditetapkan menjadi Rp 2.584.000 per gram.

Sebagai catatan, harga emas pernah mencapai level tertinggi sepanjang masa di angka Rp 3.168.000 pada 29 Januari 2025. Sementara sepanjang Mei 2026, harga tertinggi sempat menyentuh Rp 2.859.000 per gram yang terjadi pada 12 Mei.

Di pasar global, harga emas dunia juga berada dalam tekanan. Berdasarkan data Trading Economics hingga Selasa pagi pukul 09.45 WIB, harga emas diperdagangkan di bawah US$ 4.500, tepatnya di kisaran US$ 4.475 per troi ons.

Tekanan pada harga emas dunia dipicu oleh ketidakpastian geopolitik, khususnya terhambatnya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran terkait risiko inflasi dan proyeksi suku bunga global.

Ketegangan meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan berharap nota kesepahaman dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat segera dicapai.

Pasar saat ini tengah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve, sebelum akhir tahun. Kebijakan tersebut dipicu oleh peningkatan inflasi di AS yang dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.

Kini, para investor sedang memantau laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang dijadwalkan rilis pekan ini, serta menunggu pernyataan dari pejabat Federal Reserve sebagai sinyal kebijakan moneter ke depan.

Rekomendasi