

Jakarta – Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir Juni 2026. Ia menilai probabilitas pelemahan tersebut mencapai 99,99 persen.
Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per dolar AS. Tren pelemahan ini dipicu oleh eskalasi geopolitik global serta kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Menurut Ibrahim, indeks dolar diperkirakan akan berada pada level support 99,00 dan resistance 101,00. Penguatan tajam indeks dolar ini diprediksi akan berdampak signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, serta penurunan harga emas dan logam mulia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada di level support 85 dolar AS dan resistance 101 dolar AS per barel.
Terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi fluktuasi ini. Pertama adalah kondisi geopolitik, terutama memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Ibrahim menilai gencatan senjata antara kedua negara tidak akan bertahan lama karena adanya indikasi AS ingin memperkuat kontrol di kawasan tersebut yang berpotensi memicu perang besar.
Faktor kedua adalah dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Meskipun Kongres AS melalui Partai Republik telah menyetujui penghentian anggaran perang, Presiden Donald Trump dilaporkan tetap melanjutkan operasi militer. “Penolakan anggaran oleh Kongres tidak membuat Trump menghentikan perang dengan Iran,” ujar Ibrahim.
Faktor ketiga adalah kebijakan suku bunga The Fed. Ibrahim memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkannya sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga tahun ini. Kebijakan ini memicu masyarakat Indonesia untuk beralih membeli dolar AS, yang pada gilirannya menekan harga logam mulia dan nilai tukar rupiah.
Ibrahim bahkan memberikan proyeksi jangka panjang yang lebih ekstrem. Jika konflik di Timur Tengah tidak segera berakhir, ia memperkirakan rupiah berisiko melemah hingga level Rp 25.000 per dolar AS pada akhir tahun. Menurutnya, pemulihan ekonomi baru akan mulai terlihat pada akhir tahun 2027.