

Jakarta – Kanibalisme merupakan praktik aneh yang nyata terjadi dalam sejarah manusia. Hal itu memunculkan pertanyaan mengapa Homo sapiens terus melakukannya, tetapi tidak pernah bertahan lama.
Penelitian dari Universitas Wroclaw di Polandia dan Universitas Charles di Republik Ceko mencoba menjawabnya dari perspektif matematika dengan mengukur risiko dan manfaat kanibalisme.
Daging manusia disebut dapat memberikan nutrisi dan energi bagi tubuh seperti daging lainnya. Dalam kondisi ekstrem, kanibalisme bahkan bisa menyelamatkan nyawa.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan praktik kanibalisme yang terus dilakukan justru makin berbahaya dan merusak.
“Model kami menunjukkan dengan jelas, kanibalisme tidak dapat dipertahankan bagi populasi manusia dalam jangka panjang,” kata Petr Tureček, ahli biologi teoretis dan evolusi dari Universitas Charles.
Studi itu menyebut hanya ada kondisi tertentu ketika kanibalisme dianggap masuk akal, yakni saat manusia dimakan dalam keadaan sudah mati, dagingnya bisa dimasak demi keamanan, dan ketika tidak mengonsumsi manusia yang semasa hidupnya juga seorang kanibal.
Di luar kondisi tersebut, ada risiko infeksi dan penularan penyakit ketika patogen bersirkulasi di dalam spesies yang sama. Berbeda dengan daging hewan lain, kemungkinan terjadinya infeksi jauh lebih besar.