

Jakarta – Teknologi pengenal wajah atau facial recognition kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari sistem keamanan di bandara hingga fitur pembuka kunci smartphone.
Di balik kemudahan itu, terdapat risiko besar terkait privasi hingga hak asasi manusia yang kerap terabaikan.
Meski kecerdasan buatan (AI) saat ini dinilai setara dengan kemampuan manusia dalam memindai wajah, cara kerja algoritma dalam menentukan kemiripan masih menjadi “kotak hitam” yang tertutup rapat.
Untuk mengurai celah tersebut, riset terbaru dari University of Notre Dame membandingkan kinerja AI komersial dan open-source dengan penilaian 4.000 partisipan manusia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Research in Memory and Cognition itu menemukan akurasi pengenalan wajah, baik pada AI maupun manusia, sangat dipengaruhi tiga faktor utama, yakni ras partisipan, ras wajah yang dinilai, dan kemampuan alami individu dalam mengenali wajah.
“AI kelas atas saat ini memang sudah sehebat pakar manusia terbaik. Namun, jika kita menjadikan AI sebagai tolok ukur ‘standar bagus’, ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak terlalu mahir mengenali wajah,” kata Ahmed Abbasi, Profesor IT, Analitik, dan Operasi di Notre Dame.