

Jakarta – Bitcoin melonjak mendekati US$93.000 pada Senin (5/1/2026) di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Hal ini dipicu pernyataan keras Presiden AS Donald Trump terkait potensi tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko, menyusul operasi militer AS di Venezuela.
Trump mengkritik Kolombia terkait perdagangan kokain dan menyebut operasi militer AS sebagai sesuatu yang “terdengar bagus”. Ia juga memperingatkan Meksiko terkait kartel narkoba.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit yang senang membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump.
Meski hubungannya dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum relatif lebih baik, Sheinbaum menolak bantuan AS dalam memerangi kartel narkoba. Trump pun merespons dengan pernyataan, “Sesuatu harus dilakukan di Meksiko.”
AS juga terus mencermati Kuba, sekutu strategis Venezuela. Trump menggambarkan Kuba sebagai negara yang sedang runtuh dan “siap tumbang” setelah pasokan minyak dari Venezuela terhenti.
Berdasarkan data CoinGecko, harga Bitcoin naik sekitar 3,35% dari US$89.990 menjadi mendekati US$93.000 sejak operasi militer AS di Venezuela.
Data Coinmarketcap pukul 15.56 WIB menunjukkan harga Bitcoin berada di kisaran US$92.500 atau naik 1,33% dalam 24 jam terakhir.
Analis pasar kripto Crypto Rover menilai insiden Venezuela tidak menimbulkan guncangan besar di pasar karena penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilakukan dengan cepat.
Trump juga menyatakan masih menaruh perhatian pada Greenland, yang ia sebut penting bagi keamanan dan pertahanan nasional AS.
Pejabat Denmark dan Norwegia kembali menegaskan bahwa wilayah kaya mineral tersebut tidak untuk dijual, sembari meminta Trump menghentikan pernyataan bernada ancaman terkait Greenland.