Dokter Tirta Tegas Tolak Burnout Jadi Alasan Komentar Nakes

dokter tirta soroti kasus yurizal, tegas tolak burnout jadi alasan nakes komentar buruk ke pasien

Jakarta – Kasus Yurizal yang sempat mengeluhkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kamar rumah sakit kembali menjadi sorotan. Perhatian publik semakin besar setelah unggahannya di Threads mendapat sejumlah komentar dari dokter dan tenaga kesehatan yang dinilai tidak semestinya.

Menanggapi polemik tersebut, Dokter Tirta menyampaikan pandangannya melalui siaran langsung. Ia menilai persoalan utama dalam kasus ini bukan sekadar perdebatan antara pasien dan tenaga kesehatan, melainkan masalah komunikasi serta sistem pelayanan kesehatan yang perlu dievaluasi.

Dokter Tirta juga tegas menolak alasan burnout digunakan untuk membenarkan komentar buruk tenaga kesehatan kepada pasien di media sosial.

Ia menjelaskan, pasien pada dasarnya memiliki hak untuk menyampaikan keluhan ketika merasa pelayanan yang diterimanya tidak sesuai harapan.

Menurutnya, tenaga kesehatan perlu memahami posisi pasien sebagai pihak yang menggunakan layanan kesehatan. Ketika pasien sudah menunggu berjam-jam tanpa mendapatkan kepastian, wajar jika mereka mencari saluran lain untuk menyampaikan keluhan.

“Pasien itu adalah customer dan dia tahunya dia sakit, dia membayar BPJS dan dia berobat. Jadi dia antri 8 jam. Dia antri 8 jam, 5 jam, 7 jam mencari kamar,” kata Dokter Tirta yang dikutip dari Instagramnya pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dokter Tirta menilai persoalan itu bisa diminimalkan apabila pasien memperoleh penjelasan yang memadai mengenai kondisi yang membuat mereka harus menunggu.

“Dan tugasnya kita memberi jawaban. That’s it. Sesimple itu sebenarnya,” katanya lagi.

Salah satu hal yang paling disoroti Dokter Tirta adalah alasan burnout yang disebut-sebut berkaitan dengan perilaku tenaga kesehatan di media sosial.

Ia menegaskan bahwa tekanan pekerjaan memang dapat dialami siapa saja, termasuk tenaga kesehatan. Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak otomatis dapat menjadi pembenaran untuk melontarkan komentar buruk kepada pasien.

“Kalian nggak perlu debat, ngalor-ngidul, melakukan pembenaran. Intinya, apa yang dilakuin sejawat dengan mereply itu udah salah,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung kembali alasan burnout yang digunakan untuk menjelaskan perilaku tersebut.

“Semua orang burn out ya. Tukan becak burn out, kuli bangunan burn out, porter Rinjani burn out,” ujarnya lagi.

Menurutnya, seseorang tetap memiliki kendali terhadap tindakannya di media sosial. Jika merasa terlalu lelah atau emosional, salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah berhenti sementara menggunakan media sosial.

Rekomendasi