Enam Emiten Berganti Pengendali, Dua Saham Dinilai Menarik Dicermati

Jakarta – Sejumlah emiten dari berbagai sektor mencatatkan aksi korporasi berupa perubahan pemegang saham pengendali pada kuartal II-2026. Berdasarkan catatan, terdapat enam perusahaan yang mengalami pergantian pengendali.

Perusahaan tersebut meliputi PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Pinago Utama Tbk (PNGO), PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), dan PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ).

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai fenomena ini menjadi sentimen korporasi yang menarik perhatian pasar. Secara umum, perubahan pengendali dianggap sebagai sinyal transformasi perusahaan, baik melalui perombakan strategi bisnis, penguatan modal, restrukturisasi keuangan, maupun ekspansi usaha.

Dalam jangka pendek, sentimen ini biasanya memicu volatilitas harga saham karena pelaku pasar melakukan revaluasi terhadap prospek emiten. Tidak jarang muncul aksi pembelian spekulatif karena pasar berharap pengendali baru dapat membawa arah bisnis yang lebih agresif dan sehat.

Dari keenam emiten tersebut, MAPI menjadi sorotan karena skala akuisisi yang besar mencerminkan komitmen serius dari pemilik baru. Masuknya investor asing juga membuka peluang akses jaringan bisnis serta modal internasional. Secara teknikal, area Rp 1.305 dinilai sebagai titik buy on weakness dengan target harga menuju Rp 1.600.

Selanjutnya, MORA juga dinilai menarik karena bergerak di sektor infrastruktur digital dan telekomunikasi. Prospek jangka panjang perusahaan masih cerah seiring meningkatnya kebutuhan data center dan konektivitas digital nasional. Saham MORA memiliki potensi teknikal dengan area buy on weakness di Rp 5.125 dan target jangka menengah di Rp 6.000, selama tren akumulasi tetap terjaga.

Di sisi lain, investor diminta bersikap hati-hati terhadap emiten seperti DPUM, PNGO, BIKE, dan NAYZ. Emiten dengan kapitalisasi kecil dan likuiditas terbatas rentan mengalami lonjakan harga yang bersifat spekulatif. Risiko koreksi cukup tinggi jika kenaikan harga tidak dibarengi dengan perkembangan fundamental yang nyata.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengingatkan bahwa pergantian pengendali tidak otomatis menjadi katalis permanen bagi kenaikan harga saham. Dalam jangka menengah dan panjang, pasar akan tetap mengacu pada realisasi kinerja fundamental, laba, arus kas, serta eksekusi manajemen baru.

Investor disarankan mencermati rekam jejak pengendali baru, tujuan akuisisi, serta transparansi rencana bisnis ke depan. Langkah ini penting dilakukan guna memastikan keputusan investasi tidak terjebak pada fluktuasi jangka pendek yang tidak didukung oleh kinerja riil perusahaan.

Rekomendasi