Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah, Saham ASII, MEDC, CPIN Bertahan Menguat

Jakarta – Indeks Bisnis-27 dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Meskipun pasar sedang tertekan, sejumlah saham seperti ASII, MEDC, hingga CPIN terpantau masih mampu bergerak menguat di sesi perdagangan pagi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.10 WIB, indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ini melemah 2,05 persen ke level 450,37. Dari total 27 konstituen yang ada, sebanyak 5 saham mencatatkan penguatan, sementara 22 saham lainnya bergerak di zona merah.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin dengan kenaikan 1,74 persen ke level Rp5.850. Diikuti oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang naik 1,27 persen ke Rp1.590 dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang menguat 1,20 persen ke Rp4.210.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) sebesar 0,39 persen ke Rp2.550 serta PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) yang naik 0,35 persen ke Rp2.840.

Di sisi lain, tekanan jual menimpa sejumlah saham, antara lain PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang merosot 7,14 persen ke Rp3.250, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turun 5,11 persen ke Rp5.575, serta PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang melemah 4,96 persen ke Rp460.

Penurunan juga dialami saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) sebesar 3,61 persen, Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) 3,42 persen, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) 3,25 persen, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) 3,18 persen, dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) sebesar 2,79 persen.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menuturkan bahwa fokus pasar pada periode 18-22 Mei 2026 masih tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang tanggal efektif 29 Mei 2026. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi, khususnya pada sesi penutupan yang menjadi titik penyesuaian portofolio dana pasif global.

Menurut Imam, di balik potensi arus keluar modal asing, terdapat peluang rotasi masuk ke saham-saham yang diproyeksikan mengalami peningkatan bobot indeks, seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase bearish dengan area support berikutnya di level 6.640 hingga 6.538. Meski indikator menunjukkan tanda awal jenuh jual, konfirmasi pembalikan arah belum terbentuk.

Imam menambahkan, tekanan pasar saat ini lebih didorong oleh faktor teknikal dan mekanisme rebalancing global, bukan karena penurunan fundamental ekonomi domestik. Dengan pertumbuhan PDB kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, pasar domestik dinilai masih memiliki fundamental yang resilien.

Hingga arus dana asing kembali stabil pasca tanggal efektif MSCI, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Investor pun diminta untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading.

Rekomendasi