

Brussels – Ketegangan menyelimuti persiapan laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Amerika Serikat melawan Belgia menyusul keputusan kontroversial FIFA terkait status pemain Folarin Balogun.
Badan sepak bola dunia tersebut secara mendadak mengizinkan Balogun kembali tampil setelah sebelumnya dijatuhi hukuman larangan bermain.
Keputusan yang diambil hanya 30 jam sebelum pertandingan itu memicu gelombang protes keras dari kubu Timnas Belgia.
Pelatih Timnas Belgia, Rudi Garcia, secara terbuka mengecam langkah FIFA tersebut dengan menyebutnya sebagai sebuah lelucon.
Garcia merasa kebijakan ini mencederai semangat keadilan dalam turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
“Saya baru tahu kalau 5 Juli ternyata seperti Hari April Mop. Sikap kami sudah jelas. Ini bukan sekadar membela Belgia, tetapi juga menjaga integritas sepak bola,” tegas Garcia.
Pelatih berusia 61 tahun itu menambahkan bahwa dirinya belum pernah melihat preseden serupa sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Kontroversi ini bermula dari pertandingan babak 32 besar saat Amerika Serikat berhadapan dengan Bosnia & Herzegovina.
Pada laga tersebut, Balogun sempat mencetak gol pembuka sebelum akhirnya diusir keluar lapangan oleh wasit.
Kartu merah langsung diberikan setelah wasit meninjau tayangan Video Assistant Referee (VAR).
Rekaman ulang memperlihatkan penyerang berusia 25 tahun itu melakukan pelanggaran keras dengan menginjak pergelangan kaki bek Bosnia, Tarik Muharemovic.
Berdasarkan aturan disiplin yang berlaku, kartu merah tersebut seharusnya membuat Balogun absen pada pertandingan babak 16 besar.
Namun, FIFA secara tiba-tiba mencabut hukuman tersebut tanpa memberikan penjelasan yang memuaskan bagi pihak lawan.
Perubahan status ini membuat Balogun kini kembali tersedia dalam daftar pemain yang bisa diturunkan oleh tim pelatih Amerika Serikat.
Federasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) dikabarkan telah melayangkan protes resmi sebagai bentuk keberatan atas kebijakan FIFA yang dinilai tidak konsisten.
Situasi ini mengubah atmosfer pertandingan yang awalnya berfokus pada strategi taktis menjadi perdebatan mengenai integritas penyelenggaraan kompetisi.
Banyak pengamat sepak bola mempertanyakan dasar hukum yang digunakan FIFA dalam menganulir keputusan wasit yang sudah didukung oleh verifikasi teknologi VAR.
Sorotan publik kini tidak lagi hanya tertuju pada persaingan sengit di atas lapangan hijau.
Keputusan FIFA telah memicu polemik panjang yang mengancam kredibilitas turnamen di mata para peserta lainnya.
Ketidakpastian regulasi ini menjadi isu utama yang memanaskan suhu pertandingan sebelum kedua tim saling berhadapan di babak sistem gugur.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak FIFA mengenai alasan di balik pemulihan hak bermain Balogun tersebut.
Kehadiran Balogun di lapangan dipastikan akan menambah beban bagi lini pertahanan Belgia yang kini harus mewaspadai kehadiran pemain yang seharusnya sedang menjalani sanksi.
Pertandingan antara Amerika Serikat dan Belgia kini tidak hanya menjadi ajang perebutan tiket ke perempat final, melainkan juga simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak transparan.