IHSG Melemah, Analis Rekomendasikan Akumulasi Enam Saham Pilihan

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan hebat di pasar domestik. Hingga penutupan perdagangan Jumat (7/6/2026), IHSG berada di level 5.594,76 setelah mencatatkan penurunan sebesar 8,73% dalam sepekan. Secara kumulatif, koreksi indeks sejak awal tahun telah menyentuh angka 35,3%.

Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memprediksi pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan volatil dengan kecenderungan melemah. Kondisi ini dipicu oleh berlanjutnya arus keluar modal asing atau capital outflow serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Meski demikian, Elandry menyebut koreksi tajam ini berpotensi memicu technical rebound apabila stabilitas mata uang membaik.

Di tengah situasi pasar yang menantang, para analis merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat yang harganya telah terkoreksi signifikan. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada sektor defensif, terutama di tengah era suku bunga tinggi.

Elandry menyarankan investor untuk mencermati saham perbankan besar dengan likuiditas tinggi dan basis dana murah (CASA) yang kuat, sektor telekomunikasi, consumer staples, serta emiten komoditas dengan arus kas stabil.

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Potensi kenaikan saham-saham tersebut diperkirakan mencapai 8% hingga 15%, dengan BBRI dan MDKA diproyeksikan memiliki potensi apresiasi terbesar.

“Investor sebaiknya lebih fokus pada manajemen risiko, menjaga porsi kas yang memadai, serta melakukan akumulasi bertahap atau buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat,” ujar Elandry, Minggu (7/6/2026).

Senada dengan hal tersebut, Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menilai tekanan IHSG saat ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif terkait MSCI, isu fiskal domestik, hingga pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS.

Teguh melihat kondisi pasar saat ini sangat dinamis dengan probabilitas yang berimbang antara tekanan penurunan lanjutan atau penguatan. Ia memperkirakan IHSG berisiko turun ke bawah level 5.000 jika sentimen negatif terus berlanjut. Namun, jika kepercayaan investor pulih, indeks memiliki ruang untuk kembali menuju area 7.000. Oleh karena itu, ia mengimbau investor untuk mulai mengoleksi saham berkualitas yang valuasinya kini dinilai jauh lebih menarik dibandingkan kondisi normal.

Rekomendasi