

New Delhi – Setidaknya 13 orang tewas dan 20 lainnya terluka akibat ledakan mobil dahsyat yang mengguncang dekat Benteng Merah di ibu kota India, New Delhi, pada Senin malam. Insiden mematikan ini mendorong pihak berwenang pada Selasa, 11 November 2025, untuk menerapkan undang-undang antiterorisme nasional dan membuka penyelidikan.
Penerapan undang-undang antiterorisme ini mengindikasikan bahwa para pejabat memperlakukan ledakan tersebut sebagai potensi aksi terorisme, meskipun penyebab resmi atau nama tersangka belum diumumkan secara resmi. Ledakan diperkirakan terjadi sesaat sebelum pukul 19.00 waktu setempat, berasal dari sebuah mobil Hyundai i20 yang berhenti di lampu merah dekat Benteng Merah, situs Warisan Dunia UNESCO dan salah satu monumen paling ikonis di India.
“Ini adalah insiden yang tragis dan mengerikan,” kata Menteri Dalam Negeri Amit Shah setelah memimpin rapat keamanan tingkat tinggi pada Senin malam. “Kami memperlakukan ini sebagai serangan teroris sampai terbukti sebaliknya.”
Penyebab pasti ledakan belum diumumkan, namun media India melaporkan bahwa para penyelidik tengah mendalami kemungkinan penggunaan amonium nitrat, bahan bakar minyak, dan detonator dalam perangkat tersebut. Tim forensik telah dikerahkan, dan bagian-bagian kendaraan yang hancur dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.
Penerapan Undang-Undang Pencegahan Kegiatan Melanggar Hukum India (UAPA), undang-undang antiteror utama negara itu, menandai respons serius dan meningkatnya kekhawatiran tentang kemungkinan serangan terkoordinasi di ibu kota. Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Lokasi kejadian dipenuhi mayat dan puing-puing mobil yang hancur berserakan. Polisi dan penyidik segera menutup area tersebut dan membubarkan kerumunan massa yang panik.
Perdana Menteri India Narendra Modi, yang sedang dalam kunjungan ke Bhutan, menyatakan duka mendalam dan berjanji bahwa mereka yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut akan diadili. “Insiden mengerikan yang terjadi di Delhi kemarin malam telah sangat menyedihkan semua orang. Saya memahami duka yang dirasakan keluarga korban. Seluruh bangsa bersimpati kepada mereka hari ini,” ujarnya.
Modi menambahkan bahwa ia terus berkomunikasi dengan berbagai lembaga yang menyelidiki ledakan tersebut sejak tadi malam, serta berjanji untuk menyelidiki dan memastikan para pelaku tidak akan dibiarkan begitu saja. “Semua yang bertanggung jawab akan diadili,” tegasnya.
Menyusul insiden ini, Inggris mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warganya yang hendak bepergian ke India. Sementara itu, Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan keamanan dan menyampaikan belasungkawa. Kepala Menteri Rajasthan, Bhajanlal Sharma, juga memerintahkan kepolisian di seluruh negara bagian barat laut India tersebut untuk “memastikan pengaturan keamanan yang ketat,” terutama di sekitar lokasi-lokasi sensitif seperti tempat ibadah, stasiun kereta api, halte bus, pusat perbelanjaan, dan objek wisata.
Polisi New Delhi mengonfirmasi bahwa ledakan berasal dari sebuah mobil Hyundai i20 yang melaju lambat di lampu merah. “Sebuah kendaraan yang bergerak lambat berhenti di lampu merah. Sebuah ledakan terjadi di kendaraan itu, dan akibat ledakan tersebut, kendaraan-kendaraan di dekatnya juga rusak,” jelas Komisaris Polisi Delhi Satish Golcha kepada wartawan.
Penyelidik menahan pemilik asli mobil tersebut, Mohammad Salman, dari Gurugram, Haryana. Mobil tersebut, yang memiliki plat nomor dari negara bagian Haryana, dibeli Salman pada tahun 2013 dan kemudian dijual kepada pria lain di New Delhi, yang juga menjualnya kembali baru-baru ini. Polisi mengatakan orang yang membeli mobil terakhir juga telah ditangkap.
Ibu dari salah satu korban tewas, Mohsin, seorang pengemudi becak listrik yang bekerja di Benteng Merah, bernama Sajeeda, menyampaikan tuntutan keadilan di kota Meerut, sekitar 80 kilometer timur laut New Delhi. “Saya menuntut keadilan bagi putra saya. Dia memiliki anak-anak kecil,” ujarnya.
Seorang saksi mata di Delhi, Irfan, menceritakan kepanikan yang melanda jalanan sekitar Benteng Merah. “Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Kami berlari dan tidak terlalu dekat karena takut. Kami melihat tangan seseorang di tanah – tubuhnya hancur total. Saya melihat paru-paru seseorang, dan saya juga melihat setir mobil rusak total. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keluarga mereka akan menghadapi ini. Saya tidak bisa menggambarkan betapa dahsyatnya ledakan itu.”