

Jakarta – Pengalaman melahirkan seringkali digambarkan sebagai momen traumatis oleh banyak ibu, dengan hampir separuh di antaranya merasakannya. Sayangnya, rasa malu dan bersalah kerap membuat mereka memilih untuk memendam perasaan tersebut, alih-alih mencari dukungan untuk mengatasinya. Penting untuk diingat bahwa jika seorang ibu merasa pengalaman melahirkan itu traumatis, hal tersebut adalah wajar dan tidak perlu disembunyikan.
Kondisi ini diperparah oleh banyaknya informasi keliru yang beredar mengenai trauma kelahiran. Padahal, mencari dukungan yang tepat dan berbicara dengan orang yang memahami sangat krusial untuk mencegah trauma dan kekerasan saat persalinan, serta membantu para ibu mengatasinya.
Apa Itu Kekerasan Persalinan?
Bidan Mila menjelaskan bahwa kekerasan persalinan mencakup segala bentuk kekerasan yang dialami perempuan selama kehamilan, proses persalinan, hingga pascamelahirkan. Kekerasan ini bisa berupa fisik, verbal, emosional, atau tindakan medis yang tidak sesuai prosedur.
Contoh kekerasan fisik adalah pemeriksaan vagina tanpa izin atau pemeliharaan serviks tanpa alasan medis jelas, serta pengguntingan jalan lahir tanpa indikasi medis dan persetujuan ibu. “Kekerasan verbal misalnya kita bilang, ibu waktu kontraksi teriak-teriak kayak gini pada saat bikinnya diam-diam jangan teriak-teriak. Atau bisa juga kekerasan emosional yaitu pengabaian, kurangnya empati dari kita untuk ibu hamil,” kata bidan Mila.
Definisi ini menegaskan pentingnya hak perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang menghormati otonomi tubuh mereka, dengan pengambilan keputusan yang melibatkan persetujuan dan pemahaman yang jelas.
Apa Itu Trauma Melahirkan?
Trauma melahirkan, atau dalam istilah medis disebut postpartum post-traumatic stress disorder (PTSD), adalah kondisi kesehatan mental akibat pengalaman menakutkan saat proses persalinan. Trauma ini bisa dialami langsung atau disaksikan.
Ibu yang mengalami trauma persalinan sering kali terus teringat peristiwa traumatis tersebut, baik dalam pikiran atau perasaan mereka, yang memengaruhi kesehatan mental. Kondisi ini dapat menyulitkan ibu untuk beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, merasa terisolasi, cemas, atau kesulitan menjalani peran baru sebagai ibu.
Risiko Trauma Melahirkan
Trauma melahirkan berisiko memicu PTSD dan berbagai masalah menyusui. Jika tidak ditangani, trauma ini dapat berlanjut hingga ulang tahun pertama anak, bahkan menjadikan perayaan tersebut sebagai “hari jadi” trauma.
Kehamilan berikutnya juga bisa menjadi tantangan, dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan akan terulangnya pengalaman traumatis. Ibu mungkin bertanya-tanya apakah kelahiran selanjutnya akan lebih baik atau justru memperburuk keadaan.
Cara Mencegah Trauma dan Kekerasan saat Persalinan
Pencegahan trauma dan kekerasan pada ibu hamil, melahirkan, dan menyusui sangat penting untuk menjaga kesejahteraan fisik dan mental mereka. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan menurut Bidan Mila:
1. Memberikan Empati dan Perhatian pada Ibu Hamil
Saat ibu hamil merasakan ketidaknyamanan, penting bagi orang di sekitarnya, termasuk pasangan dan tenaga medis, untuk memberikan perhatian dan empati. Hindari bermain gawai saat ibu membutuhkan dukungan, karena pengabaian emosional dapat meningkatkan rasa kesepian dan terabaikan.
2. Memberikan Hak-Hak Ibu
Pastikan ibu hamil mendapatkan haknya selama kehamilan, persalinan, dan menyusui. Salah satunya adalah melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah kelahiran, jika bayi dalam kondisi sehat. Ini penting untuk kesehatan fisik bayi dan untuk memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.
3. Menghormati Otonomi Ibu
Prosedur medis seperti operasi Caesar harus dilakukan dengan mempertimbangkan persetujuan penuh dari ibu, bukan hanya suami atau keluarga. Ibu memiliki hak penuh atas tubuhnya, dan keputusan medis harus dibuat berdasarkan kondisi kesehatan ibu dan bayi, bukan hanya karena tekanan sosial atau budaya.
4. Menyelamatkan Jiwa dan Mental Ibu
Fokus pada keselamatan fisik ibu memang sangat penting, tetapi kesehatan mental dan emosional ibu juga tidak kalah penting. Dukung ibu hamil dengan informasi yang jelas, dukungan emosional, serta penguatan bahwa proses kelahiran adalah pengalaman yang harus dilalui dengan penuh perhatian terhadap kebutuhan emosional dan mentalnya. “Kita harus aware bukan hanya fokus dengan angka kematian ibu untuk menyelamatkan fisiknya tapi lupa menyelamatkan jiwa dan mentalnya,” ujar bidan Mila.
5. Pendidikan dan Pelatihan untuk Tenaga Medis
Tenaga medis perlu diberikan pelatihan untuk lebih sensitif terhadap kebutuhan emosional ibu, serta menghindari intervensi medis yang berlebihan atau dilakukan tanpa alasan medis yang jelas. Memberikan informasi yang jelas dan mendengarkan kekhawatiran ibu dapat membantu mencegah trauma psikologis yang mungkin timbul setelah proses kelahiran.
Dengan pencegahan yang tepat, trauma emosional dan fisik selama kehamilan, persalinan, dan masa menyusui dapat dihindari.