Meta Gelontorkan Rp162 Triliun Bangun Pusat Data AI Pertama Kanada

985d8cb90d80f6de25cedd1c461d194a.jpg

Sturgeon County – Meta Platforms memutuskan untuk memperluas jangkauan infrastruktur digital globalnya dengan membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) pertama di Kanada.

Langkah strategis ini ditandai dengan kucuran investasi bernilai fantastis, yakni mencapai US$ 9 miliar atau setara dengan Rp 162,05 triliun.

Proyek ambisius ini berlokasi di Sturgeon County, Provinsi Alberta, dan dirancang memiliki kapasitas daya sebesar 1 gigawatt.

Fasilitas tersebut nantinya akan menjadi pusat data ke-33 yang dioperasikan oleh perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut di seluruh dunia.

Proses konstruksi diperkirakan akan memakan waktu antara dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya dapat beroperasi penuh.

Pemilihan wilayah Alberta bukan tanpa alasan, mengingat kawasan tersebut menawarkan keunggulan infrastruktur yang signifikan bagi industri teknologi.

Ketersediaan pasokan energi yang melimpah serta jaringan kelistrikan yang stabil menjadi faktor utama penentu pemilihan lokasi ini.

Selain itu, regulasi setempat yang mendukung pengembangan infrastruktur digital berskala besar memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi.

Juru bicara Meta menyatakan bahwa lokasi tersebut telah memenuhi seluruh kriteria operasional yang dibutuhkan perusahaan dalam jangka panjang.

“Lokasi ini memenuhi faktor-faktor yang biasanya kami cari, yakni akses yang baik terhadap infrastruktur, jaringan listrik yang kuat dan pasokan energi, ketersediaan talenta, serta dukungan mitra komunitas yang membantu kami merealisasikan proyek ini,” ujar pihak Meta.

Pembangunan pusat data ini merupakan bagian dari upaya besar Meta untuk memperkuat fondasi komputasi AI mereka.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan layanan berbasis AI, perusahaan merasa perlu menambah kapasitas komputasi secara mandiri.

Meta bahkan dikabarkan tengah menjajaki peluang bisnis baru di sektor komputasi awan atau cloud computing.

Perusahaan mempertimbangkan untuk menyewakan kapasitas pusat data yang tidak terpakai kepada pihak ketiga sebagai sumber pendapatan baru.

Model bisnis ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan perusahaan pada sektor periklanan digital yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama.

Namun, strategi belanja modal yang agresif ini tidak lepas dari sorotan tajam para investor.

Meta diproyeksikan akan menghabiskan belanja modal hingga US$ 145 miliar atau sekitar Rp 2.610,73 triliun tahun ini untuk memacu ekspansi AI.

Beberapa pihak masih bersikap skeptis karena posisi Meta dinilai masih harus mengejar ketertinggalan dari para kompetitor seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Di lantai bursa, kinerja saham Meta juga tercatat mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 9 persen sepanjang tahun ini.

Situasi ini kontras dengan indeks teknologi Nasdaq yang justru menunjukkan pertumbuhan sebesar 11 persen pada periode yang sama.

Persaingan di sektor AI memang semakin ketat karena raksasa teknologi lain seperti Alphabet, Microsoft, dan Amazon juga terus menambah pusat data mereka.

Selain masalah persaingan, isu dampak lingkungan dari pusat data berskala besar juga menjadi perhatian publik di Kanada.

Kekhawatiran mengenai peningkatan emisi karbon, konsumsi air, serta polusi suara telah disoroti oleh berbagai pihak terkait operasional fasilitas serupa.

Sebagai langkah mitigasi, Meta berkomitmen menjalin kemitraan dengan perusahaan energi lokal seperti Greenlight Limited Partnership dan AltaLink.

Perusahaan juga menegaskan bahwa proyek ini akan memberikan kontribusi ekonomi dengan menyerap lebih dari tiga ribu tenaga kerja konstruksi.

Meta berjanji akan terus berinvestasi pada infrastruktur lokal serta memberikan dukungan pendanaan bagi organisasi nirlaba di sekitar area proyek.

Rekomendasi