

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih menunjukkan fluktuasi menjelang akhir tahun 2025. Pada penutupan perdagangan Jumat (26/12/2025), rupiah melemah tipis 0,02% menjadi Rp 16.745 per dolar Amerika Serikat (AS).
Meskipun demikian, secara keseluruhan dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat menguat tipis 0,02% dari posisi Rp 16.750 per dolar AS pada Jumat (19/12/2025).
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan (rebound) dolar AS setelah rilis data pekerjaan yang menunjukkan klaim pengangguran lebih baik dari perkiraan.
“Walaupun indeks dolar AS menurun dalam sepekan, prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) masih membebani rupiah,” ujar Lukman.
Lukman memprediksi pergerakan rupiah akan sulit diprediksi pada pekan depan karena minimnya data ekonomi dan likuiditas. Namun, ia menilai rupiah secara umum masih akan tertekan.
Ia menambahkan, intervensi BI di tengah minimnya likuiditas dapat menjadi katalis positif untuk penguatan rupiah.
Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat rupiah akan sulit menguat hingga akhir Desember 2025.
Permintaan dolar AS yang tinggi untuk transaksi akhir dan awal tahun menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
“Terutama untuk importir, baik itu importir oil and gas ataupun juga importir raw material untuk manufaktur. Plus juga ada kebutuhan untuk pembayaran terkait dengan utang luar negeri,” jelas Myrdal.
Meski demikian, Myrdal melihat potensi penguatan rupiah jika transaksi dolar AS mereda dan BI melakukan intervensi untuk window dressing.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 16.650 – Rp 16.850 per dolar AS pada pekan depan. Sedangkan Myrdal memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.630 – Rp 16.690 per dolar AS.