

Jakarta Pusat – Direktur Medis Rumah Sakit Yarsi Jakarta Pusat, Muhammadi atau yang akrab disapa Adi, membenarkan bahwa sejumlah korban ledakan di SMAN 72 Jakarta mengalami pecah gendang telinga. Para korban ini akan menjalani evaluasi medis lebih lanjut untuk menentukan penanganan yang tepat.
Adi mengungkapkan, ada sekitar dua hingga tiga pasien yang teridentifikasi mengalami kondisi tersebut. Pecahnya gendang telinga ini kemungkinan besar disebabkan oleh suara keras yang terjadi secara tiba-tiba saat ledakan.
Menurut Adi, hasil diagnostik dari dokter akan menentukan apakah diperlukan prosedur operasi implan pada gendang telinga korban. “Jika pecahnya full, seperti robek secara utuh dan bolong di tengah, itu harus diimplan,” jelasnya. Namun, apabila robekan terjadi di tepi gendang telinga, penanganan cukup dengan terapi farmasi, medikasi, serta evaluasi lanjutan. “Khusus pada anak-anak, biasanya robekan bisa menutup kembali,” imbuh Adi.
Terkait efek jangka panjang berupa gangguan pendengaran, Adi belum dapat memastikan. Namun, ia optimis pendengaran pasien dapat kembali normal setelah prosedur operasi atau perbaikan gendang telinga dilakukan. “Harusnya bisa kembali normal. Nanti kami akan melakukan audiometri terlebih dahulu,” terangnya.
Beberapa korban ledakan di SMAN 72 Jakarta memang mengeluhkan rasa sakit pada telinga, terasa pengang, bahkan ada suara berdenging setelah insiden terjadi. Indri Widyaningrum, ibu dari salah satu siswa kelas X, menuturkan bahwa anaknya masih merasakan sakit pada telinga hingga Jumat sore pascakejadian. “Kupingnya seperti pengang, mungkin karena suara ledakan yang sangat keras,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh siswa lain bernama Arsya. Ia merasakan sakit dan nyeri pada telinga bagian dalam. Meskipun sudah diperbolehkan pulang dari RS Islam Cempaka Putih pada Jumat malam, 7 November 2025, Arsya diwajibkan untuk kontrol kembali dua minggu ke depan. “Dokter meminta saya datang lagi untuk memeriksa telinga,” kata Arsya.