Strategi Investasi Menghadapi Pelemahan Rupiah dan Lesunya IHSG

Jakarta – Pasar keuangan domestik terus berada dalam tekanan sepanjang pekan terakhir. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak mencatatkan pelemahan di tengah meningkatnya ketidakpastian serta sentimen negatif investor terhadap aset-aset di Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi serupa terjadi di pasar saham, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan sepanjang pekan dan ditutup pada level 5.594 pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kondisi ini menuntut investor untuk lebih cermat dalam mengatur strategi alokasi aset. Menurutnya, komposisi portofolio harus disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing individu.

Bagi investor konservatif, Yusuf menyarankan fokus utama tetap pada menjaga nilai modal dan likuiditas. Portofolio dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang sebesar 40% dan obligasi negara tenor pendek sebesar 30%, sementara sisanya masing-masing 15% dialokasikan pada emas dan saham defensif. Emas berfungsi sebagai lindung nilai, sedangkan saham sektor konsumsi dan utilitas dipilih karena memiliki arus kas yang lebih stabil.

Untuk profil risiko moderat, Yusuf merekomendasikan keseimbangan antara instrumen pendapatan tetap dan saham. Alokasi 55% pada reksa dana pendapatan tetap dan 45% pada saham dianggap masih relevan. Namun, ia mengingatkan agar akumulasi saham dilakukan secara bertahap mengingat sentimen pasar belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, bagi investor agresif, koreksi pasar saat ini justru membuka peluang investasi yang menarik karena valuasi saham dinilai sudah jauh lebih murah. Investor kategori ini dapat menempatkan 60% portofolio pada saham, 20% pada instrumen pendapatan tetap, serta masing-masing 10% pada emas dan kas sebagai cadangan likuiditas.

Yusuf menegaskan bahwa strategi masuk ke pasar secara bertahap tetap menjadi prinsip yang paling penting bagi seluruh investor. Hal ini diperlukan karena kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif akibat ketidakpastian kebijakan.

Investor perlu memperhatikan lima indikator utama dalam beberapa bulan ke depan, yakni keputusan lembaga pemeringkat internasional, arah aliran modal asing, pergerakan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun, perkembangan indeks dolar AS dan harga minyak dunia, serta konsistensi kebijakan fiskal pemerintah.

Menurut Yusuf, stabilitas rupiah dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada keyakinan pasar terhadap pengelolaan fiskal yang kredibel. Ia menyarankan agar investor tetap mempertahankan cadangan likuiditas guna mengantisipasi volatilitas pasar maupun peluang ketika harga aset turun lebih dalam.

Rekomendasi