Tambang Emas Pani Mandek, Kinerja EMAS Ikut Tertekan

JAKARTA – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat kinerja keuangan negatif hingga kuartal III-2025. Pendapatan emiten ini tergerus drastis, sementara kerugian bersih membengkak signifikan. Perbaikan kinerja EMAS diperkirakan baru akan terjadi saat proyek tambang emas Pani mulai beroperasi secara komersial.

Pendapatan EMAS anjlok 93,52% secara tahunan (yoy) menjadi hanya US$ 113.437 pada periode tersebut. Seluruh pendapatan ini berasal dari segmen sewa alat berat yang ditujukan kepada PT Merdeka Mining Servis.

Pada saat yang sama, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk EMAS membengkak 158,77% yoy menjadi US$ 22,28 juta.

Analis Muhammad Wafi menyampaikan, merosotnya kinerja keuangan EMAS cukup wajar. Proyek emas Pani yang menjadi andalan emiten tersebut belum beroperasi, sehingga EMAS tidak memiliki sumber pendapatan yang signifikan. Di sisi lain, biaya operasional (opex), belanja modal (capex), serta biaya konstruksi masih terus berjalan.

Wafi menjelaskan, model bisnis EMAS memang memiliki belanja modal yang tinggi (high capex) dan membakar uang (cash burn) hingga proyeknya masuk ke fase produksi. Senada, Investment Analyst Indy Naila menambahkan, aktivitas operasional EMAS memang harus tetap berjalan, sekalipun produksi emas Pani belum dimulai secara komersial.

Dana Initial Public Offering (IPO) EMAS, menurut Indy, juga digunakan terlebih dahulu untuk melunasi utang proyek, hal ini cukup memengaruhi pendapatan dan laba perusahaan.

Hingga kuartal III-2025, pembangunan proyek emas Pani telah mencapai 83% penyelesaian secara keseluruhan. Kegiatan penambangan dimulai pada 1 Oktober 2025, diikuti dengan peledakan perdana (first blasting) pada 15 Oktober 2025.

Manajemen EMAS sebelumnya memproyeksikan fase penumpukan bijih pertama dimulai pada November 2025. Produksi emas pertama dari Pani tetap ditargetkan pada kuartal I-2026.

Indy menilai, jika proyek emas Pani berjalan sesuai lini masa, EMAS bisa segera memperoleh pendapatan dari aktivitas produksi dan penjualan emas pada 2026. Bahkan, jika operasional juga terjaga, EMAS berpotensi membukukan laba bersih pada tahun depan.

Wafi juga memperkirakan pemulihan kinerja EMAS baru akan mulai terjadi pada 2026, atau ketika tambang emas Pani mulai beroperasi. Namun, pada tahun pertama operasionalnya, Pani kemungkinan belum bisa menghasilkan laba yang optimal bagi EMAS. Hal ini bergantung pada peningkatan kinerja operasional, tingkat pemulihan (recovery rate), dan dinamika harga emas dunia.

Profit penuh biasanya muncul setelah stabilisasi produksi dalam 6—12 bulan, kata Wafi.

Dalam kondisi saat ini, arus kas EMAS tergolong ketat. Emiten ini mesti cermat dalam mengontrol tingkat pembakaran uang (burn rate) keuangannya. EMAS juga harus memastikan belanja modal (capex) yang terserap tepat sasaran.

Optimalisasi pendanaan jangka panjang juga harus dilakukan EMAS untuk menghindari dilusi atau utang yang mahal. Selain itu, EMAS perlu melakukan lindung nilai atau hedging pada sebagian produksinya untuk menjaga margin pada awal masa operasi Pani.

Wafi merekomendasikan hold saham EMAS dengan target harga di level Rp 3.800 per saham. Sementara itu, Indy menyarankan wait and see saham EMAS dengan target harga di level Rp 4.100 per saham.

Rekomendasi