

Jakarta – Marketplace masih menjadi salah satu kanal utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menjual produknya. Namun, di tengah persaingan yang semakin ketat akibat masuknya produk impor berharga murah, banyak pelaku usaha mulai menyadari bahwa keberhasilan bisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh keberadaan di platform digital.
Temuan itu mengemuka dalam seminar bertajuk Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform yang digelar di Gedung SMESCO, Jakarta. Penelitian yang dipresentasikan menunjukkan banyak UMKM tetap mampu bertahan meski harus bersaing dengan produk impor yang membanjiri platform e-commerce.
Hasil sementara penelitian yang dilakukan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) menemukan ketahanan UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan dengan rantai pasok lokal, penyedia jasa logistik, serta hubungan yang telah terbangun dengan pelanggan. Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi modal penting bagi pelaku usaha untuk tetap berkembang di tengah persaingan digital.
Pemerhati China sekaligus dosen Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Johanes Herlijanto, mengatakan anggapan bahwa produk-produk asal China yang dijual melalui platform e-commerce menerapkan praktik predatory pricing memang berkembang luas dalam beberapa tahun terakhir. Namun, menurutnya, anggapan tersebut belum dapat dibuktikan secara hukum.
Johanes menjelaskan, produk-produk asal China memang dijual dengan harga yang sangat kompetitif. Bahkan pada masa awal perkembangan e-commerce, kondisi tersebut justru memberikan peluang bagi banyak pelaku UMKM di Indonesia.
“Para pedagang toko daring bisa mendapatkan barang yang murah untuk dijual,” ujarnya, dikutip Jumat 10 Juli 2026.
Seiring perkembangan platform digital, penjual dari luar negeri mulai bisa memasarkan produknya secara langsung kepada konsumen Indonesia. Kondisi itu membuat persaingan semakin ketat karena rantai distribusi menjadi lebih pendek dan konsumen memiliki lebih banyak pilihan.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan banyak UMKM mulai mengubah strategi bisnisnya. Selain memanfaatkan marketplace, mereka juga memperkuat hubungan dengan pelanggan, menjaga kualitas produk, serta membangun jaringan usaha di luar platform digital agar tidak bergantung pada satu kanal penjualan saja.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, menilai penelitian tersebut penting karena memberikan perspektif baru mengenai perkembangan ekonomi digital. Menurutnya, kajian mengenai platform digital selama ini lebih banyak membahas peningkatan jumlah UMKM yang masuk ke marketplace, sementara aspek sosial dan perubahan perilaku pelaku usaha masih jarang dikaji.