

Jakarta – Antusiasme masyarakat dunia menyambut FIFA World Cup 2026 yang tinggi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan. Ancaman phishing, situs tiket palsu, hingga tawaran giveaway fiktif kini marak beredar di ruang digital dengan menyasar penggemar sepak bola.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan bahwa penipuan menjelang ajang olahraga besar seperti Piala Dunia diprediksi terus meningkat. Pelaku umumnya menggunakan taktik manipulasi psikologis agar korban merasa panik atau takut kehabisan tiket, sehingga mereka terburu-buru melakukan transaksi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
“Pelaku memanfaatkan antusiasme masyarakat dengan menawarkan promo flash sale, akses pre-sale eksklusif, hingga undangan menonton gratis. Mereka sering meniru logo, tampilan desain, hingga gaya bahasa resmi FIFA agar situs atau akun tiruan terlihat autentik,” ujar Heru.
Modus yang sering ditemukan antara lain penyebaran malware melalui aplikasi streaming ilegal, tautan phishing di media sosial, hingga pencurian data kartu kredit dan akun pribadi. Heru mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tanda mencurigakan, seperti alamat domain yang tidak lazim, akun media sosial yang belum terverifikasi, hingga permintaan kode OTP.
Publik diimbau untuk hanya mengakses platform resmi dan tidak mudah percaya pada ajakan yang dikirimkan melalui pesan singkat atau direct message. Langkah preventif seperti menggunakan password yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta memeriksa reputasi penjual sangat disarankan sebelum melakukan transaksi apa pun.
Temuan Kaspersky memperkuat peringatan tersebut. Perusahaan keamanan siber ini mendeteksi peningkatan aktivitas phishing yang menyamar sebagai platform resmi FIFA, toko daring fiktif, hingga email hadiah bernilai besar mencapai US$500 ribu yang mencakup tiket serta biaya akomodasi.
Analis spam senior Kaspersky, Anna Lazaricheva, mengungkapkan bahwa pelaku kejahatan siber tidak melewatkan momen besar untuk menyebarkan tautan berbahaya. Penipuan ini sering kali mencakup penjualan merchandise bertema Piala Dunia dengan diskon tidak wajar yang bertujuan untuk mencuri data pribadi atau informasi keuangan pengguna.
“Kami merekomendasikan agar pengguna mengabaikan email dan situs web yang mencurigakan untuk melindungi keuangan serta menjaga keamanan perangkat dan data pribadi mereka,” tegas Anna.
Masyarakat diminta untuk lebih kritis dalam memverifikasi setiap informasi terkait Piala Dunia 2026. Hindari melakukan instalasi aplikasi dari sumber tidak resmi dan selalu gunakan jaringan internet yang aman guna meminimalisir risiko pencurian identitas selama turnamen berlangsung.