

Cibinong – Kenaikan harga bahan pangan memicu perubahan pola konsumsi masyarakat yang berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner skala kecil. Menu daging dan telur kini semakin jarang diminati, sementara pelanggan lebih memilih lauk yang lebih ekonomis seperti sayur tumis dan ikan.
Kondisi ini dirasakan oleh Ramdanti (53), pemilik warung tegal (warteg) di Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor. Ia menuturkan bahwa lauk berbahan daging dan ayam kini lebih sering tersisa di etalase hingga malam hari.
“Lauk yang dicari sekarang lebih banyak sayur tumis atau ikan. Daging-dagingan kurang laris dan sering sisa,” ujar Ramdanti, Jumat (5/6).
Ramdanti mengungkapkan, untuk menyiasati penurunan daya beli, ia terpaksa memangkas stok ayam dari 50 potong menjadi hanya 20 hingga 25 potong per hari. Meski demikian, omzet harian tetap merosot tajam dari Rp 2 juta menjadi jauh di bawah angka tersebut.
Fenomena serupa terjadi di Jakarta Selatan. Muhammad Fajri (37), pengelola rumah makan Padang di kawasan Kebayoran Baru, mengaku laba usahanya terus tergerus akibat penurunan daya beli konsumen.
“Dulu omzet bisa mencapai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta sehari, sekarang sekitar Rp 2 juta, bahkan kadang kurang,” ungkap Fajri.
Ia menambahkan, margin keuntungan saat ini semakin tipis karena biaya operasional tetap tinggi, sementara harga bahan baku terus melonjak. Fajri bahkan harus memangkas jumlah karyawan dari lima orang menjadi tiga orang untuk melakukan efisiensi.
Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 5 Juni menunjukkan kenaikan harga pada berbagai komoditas, termasuk minyak goreng sawit yang kini berada di kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 22 ribu per liter. Kenaikan biaya produksi ini sulit dibebankan kepada pelanggan karena kekhawatiran akan kehilangan pembeli.
Konsumen Semakin Selektif
Di sisi lain, konsumen mulai membatasi pengeluaran makan sebagai dampak dari kenaikan berbagai biaya hidup. Satya (32), seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, mengaku harus mengubah pola makannya karena tekanan pengeluaran rutin lainnya.
“Yang terasa membebani itu akumulasi pengeluaran sehari-hari, seperti biaya ojek online, biaya kos, hingga kebutuhan harian lainnya yang ikut naik,” kata Satya.
Akibatnya, ia kini lebih memilih menu yang lebih hemat. Jika sebelumnya ia bisa leluasa memilih lauk daging atau rendang, kini ia lebih sering memilih kombinasi tahu, tempe, atau ikan.
“Prioritas sekarang yang penting cukup sampai akhir bulan, jadi pengeluaran untuk makan harus disesuaikan,” pungkasnya.