

Jakarta – Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyatakan dukungan penuh terhadap visi digital Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga (T3) yang diusung Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Satelit dinilai sebagai infrastruktur strategis yang menjadi fondasi pemerataan konektivitas, pertumbuhan ekonomi, serta penjaga kedaulatan digital Indonesia.
Dukungan itu ditegaskan dalam Seminar Nasional Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, belum lama ini.
Momentum 50 tahun tersebut merefleksikan lima dekade perjalanan Indonesia sejak peluncuran Satelit Palapa A1 pada 9 Juli 1976, yang sempat membawa Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang mengoperasikan sistem satelit komunikasi domestik.
Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan tantangan industri persatelitan saat ini telah bergeser. Indonesia, kata dia, tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen, melainkan harus bertransformasi menjadi produsen yang kompetitif di kancah global.
“Lima puluh tahun lalu kita menjadi pelopor di kawasan. Kini saatnya kita melangkah lebih jauh untuk merancang, mengembangkan, memproduksi, dan masuk dalam rantai pasok industri satelit dunia,” ujar Risdianto, Jumat (10/7/2026).
Ia juga mengapresiasi peran Komdigi sebagai policy enabler yang membuka ruang kolaborasi lintas sektor, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang konsisten menggerakkan riset dan inovasi teknologi antariksa.
Sinergi itu dinilai krusial agar hasil riset bisa dihilirisasi menjadi produk bernilai ekonomi.