

Jakarta – Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) II yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, mulai dari penyempurnaan anggaran dasar organisasi hingga solusi teknis relokasi kabel fiber optik yang dinilai lebih ramah bagi pelaku usaha.
Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Swandy, mengatakan pasca-Munaslub seluruh anggota dan pemangku kepentingan diharapkan semakin mempererat sinergi.
“Langkah ini sangat krusial untuk memperkuat infrastruktur digital nasional, sejalan dengan visi transformasi digital yang diusung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Jerry dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).
Ia juga mengakui adanya dinamika dan perbedaan pendapat di internal kepengurusan selama proses berlangsung. Menurut dia, hal itu merupakan bagian dari demokrasi yang sehat dan dijamin oleh UUD 1945.
“Perbedaan pendapat justru memperkaya pengambilan keputusan. Kami menjadikannya energi untuk mencari solusi terbaik, bukan penghalang. Visi kami tetap satu: memperkuat infrastruktur digital demi Indonesia maju,” kata Jerry.
Salah satu terobosan dari Munaslub II ini adalah keberpihakan APJATEL terhadap anggota berskala Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor telekomunikasi.
Untuk meringankan biaya relokasi kabel udara dan penggelaran jaringan fiber optik, APJATEL memperkenalkan skema konsorsium baru.
Dalam skema tersebut, empat hingga lima kabel milik operator berbeda akan digabungkan ke dalam satu pipa pelindung HDPE (High-Density Polyethylene).
“Tujuannya jelas, menekan biaya relokasi dan penggelaran jaringan agar lebih terjangkau. Ini bukti konkret pengurus APJATEL merangkul semua anggota, baik korporasi besar maupun pelaku usaha level UMKM,” ujar Jerry.
Munaslub II juga menjadi langkah antisipasi terhadap kebijakan pemerintah daerah yang semakin gencar menertibkan kabel udara di wilayah masing-masing.
Menghadapi hal itu, Jerry menjelaskan APJATEL akan lebih dulu melakukan verifikasi lapangan untuk menentukan solusi terbaik.
Opsi penataan yang ditawarkan meliputi perapihan kabel, pembangunan tiang bersama, hingga relokasi total ke bawah tanah atau undergrounding.
Proyek pengerjaan nantinya akan diserahkan kepada vendor terpilih melalui mekanisme lelang atau penunjukan langsung yang disepakati bersama oleh anggota. Jerry menegaskan keterbukaan menjadi fondasi utama organisasi.
“Setiap keputusan teknis dan biaya selalu berdasar pada musyawarah anggota. Kami berkomitmen menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.
Ke depan, APJATEL berkomitmen terus mengawal, menjembatani, dan memfasilitasi kepentingan para anggotanya dalam beradaptasi dengan regulasi pusat maupun daerah.
APJATEL juga menyatakan siap menjadi garda terdepan dalam mendukung program pemerintah untuk menghadirkan konektivitas digital yang merata, cepat, dan andal di seluruh pelosok Tanah Air.