Arab Saudi Akuisisi Electronic Arts, Picu Kekhawatiran PHK Massal

arab saudi caplok electronic arts senilai rp 982 triliun

Jakarta – Raksasa penerbit game asal Amerika Serikat, Electronic Arts (EA), resmi diambil alih konsorsium investor internasional yang dipimpin Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi.

Nilai akuisisi ini mencapai USD 55 miliar atau sekitar Rp 982 triliun. Transaksi tersebut tercatat sebagai leveraged buyout terbesar dalam sejarah industri hiburan.

Dengan rampungnya kesepakatan itu, EA yang membawahi waralaba populer seperti EA Sports FC, The Sims, dan Mass Effect resmi diprivatisasi. Seluruh saham publik EA dibeli kembali oleh konsorsium investor, sehingga perusahaan tak lagi diperdagangkan di bursa saham.

Selain PIF, konsorsium juga melibatkan Affinity Partners yang dipimpin Jared Kushner, menantu mantan Presiden AS Donald Trump. Transaksi ini menjadi akuisisi terbesar kedua sepanjang sejarah industri gaming, tepat di bawah pembelian Activision Blizzard oleh Microsoft senilai USD 69 miliar atau sekitar Rp 1.232 triliun.

Meski bernilai jumbo, skema akuisisi ini memicu kekhawatiran di kalangan analis. Sebab, pembelian tersebut mengandalkan leveraged buyout, artinya sebagian besar dana akuisisi berasal dari utang yang nantinya harus ditanggung dan dilunasi EA sendiri.

Untuk menutup transaksi, PIF harus meminjam USD 20 miliar atau sekitar Rp 357 triliun dari bank investasi JPMorgan, melengkapi dana awal sebesar USD 36 miliar atau sekitar Rp 643 triliun.

Jurnalis senior Bloomberg, Jason Schreier, menilai beban utang raksasa ini berpotensi memicu efisiensi ekstrem.

“Kondisi ini bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, penerapan strategi monetisasi game yang lebih agresif, hingga pemotongan anggaran secara ketat,” ujarnya.

Pemimpin Redaksi Game Business, Christopher Dring, juga menyebut perusahaan private equity umumnya menerapkan manajemen agresif demi mengamankan imbal hasil investasi.

Sinyal bahaya juga dirasakan pengembang independen. CEO Arrowhead Game Studios, Shams Jorjani, khawatir pemilik baru EA hanya akan berfokus pada formula aman, seperti terus memproduksi sekuel dan waralaba besar, alih-alih memberi ruang bagi keragaman katalog game.

Tak hanya soal bisnis, kesepakatan ini juga memantik protes dari komunitas gamer. Kelompok advokasi Players Alliance HQ menyerukan gerakan menolak akuisisi tersebut.

Mereka khawatir keterlibatan pemerintah Arab Saudi dapat memengaruhi keputusan kreatif, terutama terkait kebebasan berekspresi serta isu gender dan LGBTQI+ yang selama ini menjadi bagian dari narasi dalam game seperti The Sims.

Meski dihantam kritik, CEO EA Andrew Wilson dipastikan tetap memimpin perusahaan. Wilson optimistis era baru ini akan membawa EA menciptakan pengalaman game yang lebih transformatif bagi generasi mendatang.

Rekomendasi