IHSG Merosot 12 Persen Sepanjang Mei dan 29 Persen YTD

Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2026 mengalami tekanan akibat tingginya ketidakpastian global serta penyesuaian portofolio oleh investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, IHSG hingga Mei 2026 telah terkoreksi sebesar 29,14 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).

Pada penutupan perdagangan Mei 2026, IHSG berada di level 6.127,38 atau melemah 11,92 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya (month to month/mtm). Meski demikian, OJK menegaskan bahwa pasar modal domestik tetap memiliki ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang terjaga.

Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread di pasar saham pada Mei 2026 berada di level 1,50 persen, meningkat dibandingkan April yang sebesar 1,33 persen. Di sisi lain, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham melonjak menjadi Rp22,86 triliun, naik signifikan dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp18,51 triliun.

Terkait arus modal, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,10 triliun pada Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan tekanan dibandingkan posisi April yang mencapai Rp17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 437,26 pada akhir Mei 2026, menguat 0,32 persen secara bulanan. Namun, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata mengalami kenaikan sebesar 5,61 basis poin (bps) secara bulanan, yang dipengaruhi oleh dinamika persepsi risiko global.

Investor asing tercatat melakukan net sell di pasar SBN sebesar Rp3,70 triliun sepanjang Mei 2026, sementara di pasar obligasi korporasi terjadi net buy asing senilai Rp200 miliar.

Industri pengelolaan investasi juga menunjukkan kinerja yang stabil. Nilai Asset Under Management (AUM) per 29 Mei 2026 mencapai Rp1.049,84 triliun. Meskipun secara bulanan terkoreksi 1,00 persen, namun secara tahun berjalan masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,68 persen. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp685,76 triliun, dengan net redemption sebesar Rp1,77 triliun pada Mei 2026.

Jumlah investor di pasar modal domestik terus menunjukkan tren kenaikan. Terdapat penambahan 1,26 juta investor baru pada Mei 2026, sehingga total investor tumbuh 36,27 persen (ytd) menjadi 27,75 juta investor.

Pasar modal juga terus menjalankan fungsinya sebagai sumber pendanaan bagi korporasi. Hingga Mei 2026, nilai penggalangan dana (fundraising) mencapai Rp68,18 triliun. Saat ini, terdapat pula 75 rencana penawaran umum dalam daftar tunggu (pipeline) dengan nilai indikatif mencapai Rp64,26 triliun.

Sementara itu, melalui skema Securities Crowdfunding (SCF), hingga Mei 2026 telah terhimpun dana sebesar Rp1,94 triliun, dengan tambahan lima efek baru dan dua penerbit baru pada bulan Mei yang menyumbang dana sebesar Rp11,09 miliar.

Rekomendasi