Kenaikan Suku Bunga BI Tekan Beban Cicilan KPR Generasi Z

Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dipastikan bakal berdampak pada besaran cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kondisi ini memicu kekhawatiran bagi generasi Z dalam upaya mereka mewujudkan impian memiliki rumah pertama.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan umumnya akan diikuti oleh penyesuaian bunga KPR secara bertahap. Hal ini menyebabkan cicilan bulanan menjadi lebih mahal dan daya beli masyarakat, khususnya generasi muda, semakin tertekan.

Menurut Rizal, tantangan utama yang dihadapi Gen Z saat ini tidak hanya terletak pada tingginya bunga kredit, tetapi juga harga hunian yang terus melambung di tengah keterbatasan pendapatan dan kenaikan biaya hidup.

Akibat beban finansial yang kian berat, banyak generasi muda terpaksa menunda rencana kepemilikan rumah. Mereka kini cenderung memilih untuk menyewa hunian dalam jangka waktu lebih lama atau beralih mencari properti di wilayah penyangga yang menawarkan harga lebih terjangkau.

Di sisi lain, Rizal menekankan bahwa langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga bertujuan menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Kebijakan ini diambil guna mencegah tekanan ekonomi yang lebih buruk bagi masyarakat. Jika rupiah terus melemah dan inflasi tidak terkendali, daya beli generasi muda justru berisiko lebih terpukul.

Menyikapi kondisi ini, Rizal mendorong pemerintah dan sektor perbankan untuk segera menghadirkan skema pembiayaan yang lebih ramah bagi generasi muda. Opsi seperti subsidi bunga yang tepat sasaran, uang muka atau DP ringan, tenor pinjaman yang lebih panjang, serta pengembangan hunian berbasis transportasi publik menjadi solusi penting agar akses kepemilikan rumah tetap terbuka.

Kekhawatiran ini sejalan dengan hasil riset lembaga Inventure pada September 2024 yang menunjukkan bahwa 65 persen Gen Z merasa tidak percaya diri mampu membeli rumah dalam tiga tahun ke depan. Faktor utama yang menjadi kendala adalah harga properti yang tidak terjangkau, pendapatan yang belum stabil, serta tekanan beban prioritas ekonomi lainnya.

Rekomendasi