Rupiah Melemah ke Rp17.846, Defisit APBN dan Arus Modal Disorot

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Pelemahan ini membawa mata uang Garuda ke level terendah baru di pasar spot.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,25% ke level Rp 17.846 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 17.789 per dolar AS, melemah 0,26% dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 17.743 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi penguatan dolar global serta meningkatnya sentimen negatif (risk-off) di pasar negara berkembang. Saat ini, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertahan tinggi di kisaran 4,4% hingga 4,5%, sementara indeks dolar AS (DXY) kembali menguat di atas level 99.

Kondisi ini mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi dan saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Rizal mencermati bahwa pasar kini lebih sensitif terhadap faktor domestik. Defisit APBN hingga kuartal I-2026 telah melampaui Rp 240 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB. Selain itu, kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat seiring dengan beban subsidi energi akibat harga minyak dunia yang relatif tinggi.

Posisi investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) pun terus menurun ke kisaran 12%, jauh di bawah periode sebelum pandemi yang sempat berada di atas 35%. Hal ini menyebabkan bantalan valuta asing domestik menjadi lebih terbatas saat terjadi tekanan arus modal keluar. Data mencatat cadangan devisa Indonesia turun dari sekitar US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 menjadi US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Menurut Rizal, pelaku pasar kini melihat pelemahan rupiah sebagai cerminan kenaikan premi risiko Indonesia. Ia menyoroti indikator domestik yang mulai melandai, seperti PMI manufaktur yang berada di level ekspansi tipis 50,1 serta melemahnya kepercayaan konsumen. Di sisi lain, biaya dana (cost of fund) domestik meningkat akibat suku bunga yang tinggi dan persaingan likuiditas perbankan.

Meski Bank Indonesia telah menempuh langkah stabilisasi melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta triple intervention, kebijakan tersebut dinilai lebih efektif menahan volatilitas daripada membalikkan tren pelemahan.

Untuk perdagangan Jumat (29/5), Rizal memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil di kisaran Rp 17.780 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Jika tekanan eksternal meningkat dan tidak ada arus modal masuk yang signifikan, ia menilai area psikologis Rp 18.000 per dolar AS berpotensi segera diuji oleh pasar.

Rekomendasi