

New York – Investor diproyeksi akan mengalihkan fokus pada data pasar tenaga kerja Amerika Serikat pada pekan depan. Pergerakan pasar saham diprediksi bakal dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait inflasi yang masih tinggi dan potensi kenaikan suku bunga yang dapat menghentikan tren reli di Wall Street.
Indeks ekuitas AS mencatatkan kinerja impresif dengan indeks S&P 500 yang naik selama sembilan pekan berturut-turut. Sejauh tahun ini, S&P 500 telah menguat lebih dari 10%, sementara Nasdaq Composite melonjak 16%. Kebangkitan pasar ini didorong oleh sektor teknologi yang mendapat sentimen positif dari pertumbuhan kecerdasan buatan (AI).
Laporan pekerjaan bulanan yang akan dirilis pada 5 Juni mendatang menjadi sorotan utama pasar. Data tersebut akan menjadi acuan bagi investor dalam menilai kebijakan Federal Reserve ke depan. Inflasi PCE yang mencapai 3,8% hingga April, angka tertinggi sejak Mei 2023, telah meningkatkan kekhawatiran akan langkah pengetatan moneter yang lebih agresif.
Kepala Strategi Investasi di Schwab Center for Financial Research, Liz Ann Sonders, menyebut jika data ketenagakerjaan tetap kuat di tengah inflasi yang meningkat, maka prospek kebijakan The Fed akan kembali diuji. Sebaliknya, laporan yang lebih lemah dari ekspektasi mungkin dapat meredakan tekanan terkait suku bunga.
Para ahli memprediksi tingkat pengangguran akan berada di angka 4,3% dengan peningkatan 85.000 lapangan kerja. Namun, jika penambahan lapangan kerja melampaui 150.000, pasar justru khawatir akan risiko ekonomi yang terlalu panas (overheating), yang dapat memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Selain data ekonomi, kinerja kuartalan perusahaan semikonduktor Broadcom yang akan diumumkan pada Rabu depan juga menjadi ujian krusial bagi perdagangan di sektor AI. Optimisme terhadap infrastruktur AI telah mendorong Indeks Semikonduktor Philadelphia melonjak 80% sejak akhir Maret, dengan saham Broadcom sendiri naik lebih dari 50%.
Pelaku pasar kini mencermati pergerakan imbal hasil obligasi 10 tahun yang berada di kisaran 4,45%. Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi ancaman bagi saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi pelaku usaha dan konsumen, sekaligus menciptakan persaingan aset investasi yang lebih ketat bagi investor.
Ketidakpastian juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, termasuk dampak perang Iran yang masih dipantau karena berpengaruh pada harga energi dan stabilitas aset global. Data manufaktur dan jasa yang akan dirilis minggu depan diprediksi bakal menjadi salah satu indikator terakhir sebelum pertemuan Federal Reserve pada pertengahan Juni mendatang.