

Jakarta – Harga emas Antam kembali mencetak rekor tertinggi. Pada Senin (22/12), harga 1 gram emas Antam mencapai Rp 2.502.000.
Angka ini naik Rp 11.000 dibandingkan hari sebelumnya. Data diambil dari situs Logam Mulia.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyebut beberapa faktor global memicu kenaikan ini.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS jadi salah satu pendorongnya. Selain itu, tensi geopolitik yang meningkat juga berpengaruh.
Pembelian emas oleh bank sentral dunia juga turut andil.
“Lonjakan harga emas Antam ke level Rp2.502.000 per gram pada hari ini merupakan fenomena historis yang didorong oleh badai sempurna di pasar global,” kata Sutopo.
Pasar yakin The Fed akan memangkas suku bunga pada 2026. Hal ini seiring dengan melemahnya data tenaga kerja dan inflasi AS.
Kondisi ini membuat emas lebih menarik dibanding aset berbunga. Ketegangan geopolitik juga membuat investor mencari aset safe haven.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menambahkan faktor domestik juga berperan. Pelemahan rupiah dan meningkatnya permintaan emas jadi pendorongnya.
Kinerja fundamental Antam yang solid juga menopang sentimen positif.
Sutopo memperkirakan tren bullish emas masih berlanjut. Harga emas dunia diperkirakan mencapai US$ 4.900 – US$ 5.000 per troy ons pada akhir 2026.
Dengan asumsi курс rupiah Rp 16.500 per dolar AS, harga emas Antam berpotensi menembus Rp 2,7 juta – Rp 2,8 juta per gram pada 2026.
Meski begitu, Sutopo mengingatkan potensi konsolidasi setelah reli tajam. Investor disarankan tetap disiplin.
Ia menyarankan investor menghindari FOMO. Terapkan strategi pembelian bertahap (DCA) di tengah volatilitas.
Bagi investor yang sudah memiliki emas di bawah Rp 2 juta per gram, ini saatnya rebalancing portofolio. Ambil untung sebagian sekitar 10-20%.
Wahyu menilai potensi kenaikan harga emas Antam masih terbuka. Proyeksi emas global tetap bullish dan risiko pelemahan rupiah masih ada.
Emas Antam berpeluang mencapai Rp 2,8 juta – Rp 3 juta per gram jika harga emas dunia naik dan rupiah melemah. Bahkan bisa menguji level Rp 3,5 juta – Rp 4 juta per gram.
Ia menekankan emas ideal sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Investor disarankan diversifikasi ke instrumen lain yang lebih likuid.