Euro dan Dolar Selandia Baru Diprediksi Dominasi Pasar Valas

Jakarta – Indeks dolar Amerika Serikat yang melemah membuka ruang bagi sejumlah mata uang utama dunia untuk menguat. Meredanya tekanan inflasi di AS serta optimisme terhadap upaya diplomasi di Timur Tengah membuat pelaku pasar mulai beralih dari aset safe haven ke aset yang lebih berisiko.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (1/6) pukul 12.00 WIB, pasangan mata uang EUR/USD naik 0,03% dalam sepekan ke level 1,16. Dolar Australia (AUD/USD) menguat 0,15% ke level 0,71, sementara dolar Selandia Baru (NZD/USD) mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,63% menjadi 0,59. Sebaliknya, GBP/USD melemah 0,37% ke level 1,34, dan USD/JPY naik 0,35% menjadi 159,45 yang menunjukkan yen Jepang masih berada di bawah tekanan.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa penguatan mata uang utama ini didorong oleh kombinasi sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter global. Perkembangan diplomasi antara AS dan Iran dinilai positif karena memicu harapan berkurangnya gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya menekan harga minyak dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS.

Selain itu, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Penurunan harga energi dan melunaknya inflasi membuat indeks dolar AS (DXY) berada di level 99 atau melemah 0,20% dalam sepekan terakhir.

Sutopo menyoroti dolar Selandia Baru sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terbaik. Penguatan NZD ditopang oleh sikap hawkish Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) yang diproyeksikan tetap konsisten dalam mengendalikan inflasi. Pasar bahkan mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga di Selandia Baru dalam waktu dekat.

Sementara itu, yen Jepang masih tertekan akibat ketidakpastian arah normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ). Selisih imbal hasil yang masih lebar antara aset Jepang dan AS dinilai membatasi potensi penguatan yen. Untuk jangka pendek, Sutopo menilai euro cukup menarik untuk dicermati karena European Central Bank (ECB) cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat guna meredam inflasi.

Memasuki paruh kedua tahun ini, pergerakan pasar valas diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral utama, data inflasi global, serta dinamika geopolitik. Dolar AS diprediksi melemah terbatas jika peluang penurunan suku bunga The Fed semakin terbuka, meskipun ketidakpastian geopolitik sewaktu-waktu dapat memicu arus balik modal ke aset safe haven.

Untuk kuartal III 2026, Sutopo memproyeksikan pasangan EUR/USD bergerak pada rentang 1,15–1,18 dan NZD/USD di kisaran 0,58–0,61. Sementara itu, USD/JPY diperkirakan bergerak di rentang 156,50–161,50. Meskipun berpotensi menguji area 162, penguatan dolar terhadap yen diprediksi mulai terbatas seiring dengan peluang intervensi dari otoritas Jepang dan perbaikan fundamental eksternal negara tersebut.

Rekomendasi