Intip strategi Harta Djaya Karya (MEJA) perluas bisnis ke sektor tambang

Jakarta – PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) melakukan ekspansi bisnis besar-besaran dengan merambah sektor pertambangan batu bara. Emiten yang bergerak di bidang furnitur dan konstruksi interior ini menyepakati akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai transaksi mencapai US$ 100 juta.

Proses akuisisi tersebut akan dilakukan melalui skema share swap atau pertukaran saham. MEJA menargetkan transaksi ini dapat rampung sepenuhnya pada kuartal III-2026.

Untuk mendukung pendanaan aksi korporasi ini, perseroan berencana melakukan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Harga pelaksanaan direncanakan pada kisaran Rp 450 hingga Rp 550 per saham. Rencana ini akan segera dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto, menyatakan bahwa diversifikasi ke sektor batu bara bertujuan menciptakan sumber pendapatan baru untuk memperkuat profitabilitas perusahaan. Meski berekspansi ke sektor tambang, Richie menegaskan bahwa lini bisnis konstruksi yang selama ini berjalan akan tetap dipertahankan.

“Secara bisnis otomatis pendapatannya ketika dikonsolidasi akan jauh lebih besar dari sisi tambang. Dampaknya pada laporan keuangan mungkin baru akan terlihat pada semester II tahun 2027 atau Desember 2027,” ujar Richie.

Kolaborasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan efisiensi operasional dan memperkuat rantai pasok kedua entitas. Komisaris Utama MEJA, Noprian Fadli, menambahkan bahwa manajemen berupaya mempercepat proses akuisisi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik.

Pendiri PT Trimitra Coal Perkasa, Subagio, meyakini integrasi ini akan membuka peluang pengembangan yang luas, termasuk mendukung agenda hilirisasi industri nasional. Menurutnya, sinergi ini akan memperkuat kinerja perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan pemegang saham.

Sebagai informasi, aset tambang TCP yang berlokasi di Sumatera Selatan mencakup konsesi seluas 11.640 hektare. Berdasarkan laporan JORC dari konsultan independen Faan Grobelaar & Associates, TCP memiliki estimasi cadangan batu bara siap tambang sebesar 693,7 juta ton.

Saat ini, TCP telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam sebagai kontraktor tambang dengan target produksi mencapai 1,5 juta ton pada tahun 2026. Seluruh hasil produksi tersebut telah memiliki pembeli siaga, yakni Agro Energy Trading Pte. Ltd.

Rekomendasi