

Pangandaran – Tim SAR gabungan memperluas area pencarian Widiasih, seorang atlet terjun payung yang hilang di Perairan Bojongsalawe, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Perluasan area pencarian hingga Perairan Batu Karas, Kecamatan Cijulang, dilakukan sejak Rabu (31/12/2025) siang.
Keputusan ini diambil berdasarkan analisis arus laut dan penemuan beberapa perlengkapan milik korban di lokasi awal jatuhnya. Petugas kini menyisir area yang lebih luas untuk mempercepat evakuasi.
“Pencarian bertambah luas, sekitar 2 sampai 3 kilometer dari TKP,” kata Koordinator Pos SAR Pangandaran, Edwin Purnama.
Parasut dan Helm Korban Ditemukan
Sebelumnya, pada Rabu pagi, fokus pencarian sempat diarahkan ke Teluk Pangelek, Perairan Bojongsalawe. Di lokasi ini, tim SAR menemukan parasut dan helm yang digunakan Widiasih saat terjun payung. Temuan ini menjadi petunjuk penting untuk memetakan pergerakan korban di bawah air.
Edwin menjelaskan, berbagai alat dikerahkan untuk mencari korban di laut. Tim SAR menggunakan Rigid Inflatable Boats milik Polairud, waverunner Basarnas, jetski, dan dua perahu jukung nelayan Bojongsalawe.
“Kita maksimalkan alat yang kita miliki,” tegas Edwin.
Pencarian di darat melibatkan personel dari Pos TNI AL Pangandaran, Brimob, Tagana, dan panitia kejurda terjun payung. Pemantauan dari udara juga terus dilakukan menggunakan pesawat Cessna PK-RTF Ganesha untuk mencari objek yang terapung di laut.
Faktor Cuaca dan Kronologi Kejadian
Cuaca di sekitar lokasi pencarian terpantau cerah berawan sejak pagi hingga siang. Namun, Edwin mengingatkan bahwa perubahan cuaca, terutama pada sore hari, dapat menghambat visibilitas dan pergerakan tim.
“Sore mendung,” ujarnya.
Diketahui, Widiasih dan empat rekannya mengalami kecelakaan saat terjun payung di Pangandaran. Tiga penerjun, yaitu Kudlori, Karni, dan Mustafa, berhasil mendarat darurat.
Sementara itu, satu korban bernama Rusli ditemukan meninggal dunia. Kecelakaan ini diduga disebabkan oleh perubahan arah angin signifikan pada ketinggian sekitar 10.000 feet, yang menyebabkan para penerjun kehilangan kendali dan terhempas ke laut.